Perbedaannya adalah penghuni gua melakukan perjalanan 300 tahun mendatang dan tidak ke masa awal mereka tidur, sedangkan Nabi Muhammad melakukan perjalanan sampai hari kiamat dan kembali ke masanya lagi. Dari peristiwa ini menunjukkan tanda kuasa Allah kepada umat manusia bahwa waktu bersifat tidak pasti.
Kedua, tersirat dari peristiwa Isra Miraj adalah mengenai salat dan masjid. Kita mengetahui bahwa peristiwa ini melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa padahal kita meyakini bahwa Allah bisa berkendak untuk langsung mengantar Nabi Muhammad ke Sidratul Muntaha.
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya masjid yang secara maknawi bukan hanya sekadar tempat melainkan ruh dan aktivitas. “Saya di kantor inilah masjid tempat saya sujud maka sudah seharusnya aktivitas saya di kantor adalah untuk menopang sujudnya dan merefleksikan sujud,” tutur Saiful dilansir dari laman UMJ.
Dalam redaksi kisah isra miraj dituliskan juilal ardhu masjidaa (dijadikan bumi sebagai masjid), oleh karenanya umat islam bisa melaksanakan shalat di mana saja. Masjid juga harus menjadi sentral utama umat islam.
Ketiga, peristiwa Isra’ Mi’raj memberi pengertian tentang persitiwa kehidupan umat Islam yang beriman. Atas peristiwa ini Nabi Muhammad dinistakan oleh kaumnya, beliau dianggap berhalusinasi karena menunjukkan perjalanan yang tidak masuk akal dan hanya orang-orang beriman yang mempercayai kisah Isra Miraj ini.
Amalan Malam Isra Miraj
Melansir laman Nahlatul Ulama, Ada amalan doa yang dapat dibaca umat Islam pada malam Isra Miraj, 27 Rajab. Doa ini memiliki keistimewaan yakni segala hajat atau keingian yang diminta akan dikabulkan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, hendaknya umat Islam tidak melewatkan amalan ini, yang hanya ada pada satu momentum dalam setahun, yakni pada Rabu (7/2/2024) malam ini.
Keistimewaan amalan doa tersebut sebagaimana dikemukakan Ustadz Sunnatullah dalam tulisannya di NU Online berjudul ‘Doa Malam Isra Miraj 27 Rajab untuk Kabulkan Segala Hajat’. Dengan mengutip kitab karya Syekh Muhammad bin Abdullah bin Hasan al-Halabi al-Qadiri, Ustadz Sunnatullah menegaskan bahwa doa itu memiliki khasiat yang sangat besar.
مَنْ قَرَأَ بِهَذَا الدُّعَاءِ لَيْلَةَ السَّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ مِنْ رَجَبَ ثُمَّ يَسْأَلُ الله حَاجَتَهُ فَاِنَّهَا تُقْضَى بِاِذْنِ اللهِ
Artinya, “Barang siapa yang membaca doa ini pada malam 27 Rajab, kemudian meminta kepada Allah (untuk dipenuhi) kebutuhannya, maka akan dipenuhi kebutuhannya dengan izin Allah.” (Abdullah al-Halabi, Nurul Anwar wa Kanzul Abrar fi Dzikris Shalati ‘alan Nabi al-Mukhtar, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah: tt], halaman 38).
Doanya adalah sebagai berikut.
اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ بِمُشَاهَدَةِ أَسْرَارِ الْمُحِبِّيْنَ، وَبِالْخَلْوَةِ الَّتِي خَصَّصْتَ بِهَا سَيِّدَ الْمُرْسَلِيْنَ حِيْنَ أَسْرَيْتَ بِهِ لَيْلَةَ السَّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ أَنْ تَرْحَمَ قَلْبِيَ الْحَزِيْنَ وَتُجِيْبَ دَعْوَتِيْ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ
Allāhumma innī as’aluka bi musyāhadati asrāril muhibbīn, wa bil khalwatil latī khashshashta bihā sayyidal mursalīn hīna asraita bihī lailatas sābi’i wal ‘isyrīn an tarhama qalbiyal hazīna wa tujība da‘watī yā akramal akramīn.
Artinya: “Ya Allah, dengan keagungan diperlihatkannya rahasia-rahasia orang-orang pecinta, dan dengan kemuliaan khalwat (menyendiri) yang hanya Engkau khususkan kepada pimpinan para rasul, ketika Engkau memperjalankannya pada malam 27 Rajab, sungguh aku memohon kepada-Mu agar Kau merahmati hatiku yang sedih dan Kau mengabulkan doa-doaku, wahai Yang Maha Memiliki kedermawanan.”
Cara mengamalkan Doa malam Isra’ Mi’raj tidak langsung dibaca seketika. Doa ini harus didahului dengan shalat sunnah dan shalawat. Pertama, melaksanakan shalat sunnah dua rakaat sebagaimana shalat sunnah pada umumnya. Kemudian membaca surat Al-Ikhlas setelah membaca surat Al-Fatihah di rakaat pertama dan kedua.
Kedua, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad sebanyak 10 kali. Ketiga, membaca doa tersebut, kemudian menyebutkan segala hajat-hajatnya.
Ilustrasi Isra Miraj.___FOTO:CANVA