Sukarno wafat dalam sepi, di tengah pengasingan dan pengabaian yang sunyi. Proklamator bangsa itu tak hanya direnggut ajal, tapi juga martabatnya—perlahan, tapi pasti.
__________
Pada pagi yang muram, 21 Juni 1970 pukul 07.07 WIB, Ir. Sukarno—sang proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia—menghembuskan napas terakhirnya di Wisma Yaso, Jakarta.
Wafatnya Bung Karno tidak hanya mengakhiri sebuah era, tetapi juga membuka bab panjang penuh luka, misteri, dan pengucilan terhadap sosok yang pernah menggetarkan dunia dengan pidato-pidato revolusionernya.
Menurut sejarawan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Asvi Warman Adam, sejak awal 1968 Sukarno tidak lagi menjalani hari-harinya sebagai pemimpin bangsa, melainkan sebagai tahanan politik de facto. Ia ditempatkan di Paviliun Istana Bogor sebelum akhirnya dipindahkan ke Batutulis, kemudian ke Wisma Yaso di Jakarta pada awal 1969.
Kondisi Bung Karno, kala itu, terus memburuk. Ia tak lagi dikelilingi staf medis mumpuni, melainkan hanya dilayani oleh seorang dokter umum tanpa pendampingan spesialis.
“Sukarno dirawat seperti pasien rumah sakit biasa,” tulis Asvi, “Namun tanpa perhatian medis khusus yang dibutuhkan penderita penyakit serius. Tekanan darahnya tinggi, ginjalnya bermasalah, tapi nyaris tak ada penanganan serius.”
Gambaran memilukan itu diperkuat oleh kesaksian Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin.
Dalam bukunya Membenahi Jakarta, Ali mengisahkan bahwa tempat tinggal Sukarno sangat kotor, penuh debu, dan tidak terawat—kondisi yang bertolak belakang dari pribadi Bung Karno yang sangat menyukai kebersihan dan keindahan.
“Saya yakin beliau sangat menderita. Bagaimana mungkin tokoh sebesar itu diperlakukan seperti ini?” katanya getir.
Peter Kasenda, dalam Hari-hari Terakhir Sukarno, menyebut masa di Wisma Yaso sebagai periode siksaan bagi Bung Karno. Bukan hanya tubuhnya yang melemah, tetapi mentalnya pun terkikis.
Diperiksa oleh Kopkamtib, dia diinterogasi seolah pesakitan, dituduh terlibat Gerakan 30 September. Waktu bertamu dibatasi, hidupnya dirundung sepi. Di tengah keheningan, Bung Karno hanya bisa menghibur diri dengan permainan remi dan menonton film.





