Ajax Amsterdam, Simon Tahamata, dan Kenangan Kelam Republik Maluku Selatan

Foto spanduk ucapan terima kasih kepada Simon Tahamata. (Tangkapan Layar Instagram)

Untuk mengatasi gerakan RMS, Pemerintah Indonesia menempuh langkah diplomasi politik dengan misi perdamaian. Mereka mengirim delegasi untuk berkomunikasi dan bernegosiasi dengan Soumokil. Delegasi Indonesia dipimpin Dr. J. Leimena, yang membawa serta tokoh-tokoh masyarakat yang terdiri atas para pendeta, politisi, dokter, dan wartawan. Secara persuasif, delegasi meminta Soumokil dan mereka yang berada dalam gerakan RMS agar tetap di dalam NKRI. Namun, misi perdamaian tersebut tidak berhasil.

Oleh karena itu, langkah militer ditempuh, di mana pemerintah menggelar Gerakan Operasi Militer (GOM) III dipimpin Panglima Tentara dan Teritorium (TT) Indonesia Timur Kol. A.E Kawilarang. Operasi militer ini didukung oleh pasukan Slamet Riyadi dari Jawa dan Pasukan Mayor Pellupessy dari Maluku, yang kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok pasukan sesuai dengan basis kekuatan RMS yang tersebar di ketiga pulau di Maluku, yaitu di Pulau Ambon, Pulau Seram dan Pulau Buru.

Untuk menguasai Ambon sebagai wilayah terluas RMS, dilakukanlah Serangan Umum Senopati yang melibatkan semua unsur dan pasukan dari Jawa, yang dibagi dalam tiga kelompok pasukan, yaitu pasukan Mayor Achmad Wiranatakusumah, pasukan Letnan Kolonel Slamet Riyadi, dan pasukan Mayor Suryo Subandrio.

Bacaan Lainnya

Kontak senjata tidak bisa dihindarkan, sehingga banyak korban meninggal dari kedua belah pihak. Letnan Kolonel Slamet Riyadi termasuk dalam daftar prajurit yang gugur  saat memimpin  pertempuran di Benteng Nieuw Victoria, Ambon, pada 4 November 1950.

Perlawanan dari RMS cukup sengit, karena mereka punya banya pasukan terlatih yang merupakan mantan tantara KNIL asal Maluku—yang tergabung dalam  pasukan Green Caps pasukan elit tantara KNIL. Pertempuran di Benteng Nieuw Victoria Ambon  akhirnya dimenangkan pasukan Indonesia, di mana kemenangan tersebut menandai kembalinya Ambon ke dalam wilayah NKRI.

Setelah wilayah RMS berhasil dikuasai oleh militer Indonesia, dilakukanlah penangkapan terhadap Presiden RMS yang pertama, J.H Manuhutu, dan Perdana Menteri RMS Albert Wairissal beserta sembilan menteri lainnya. Mereka semua diproses secara hukum dan mendapatkan diganjar sesuai tingkat pelanggaran masing-masing. Namun demikian, ada juga sebagian pimpinan RMS yang berhasil melarikan diri dan difasilitasi oleh Pemerintah Belanda di Negeri Kincir Anging, lalu mendirikan sebuah organisasi di Belanda dengan pemerintahan di pengasingan (government in exile).

Soumokil sendiri pergi ke Pulau Seram dan mendirikan pemerintahan darurat RMS. Dia bersama beberapa orang pengikutnya melanjutkan perlawanan dengan bergerilya di Pulau Seram, namun berhasil ditangkap pada 12 Desember 1963. Saat itu pula pemberontakan RMS.

Soumokil, setelah menjalani proses persidangan di pengadilan, dijatuhi hukuman mati pada 12 April 1966 (“Indonesia Rebels Kill Two of Their Leaders” 1950: 5).

Lalu, apakah Simon termasuk salah satu bagian dari RMS? Dan apakah Ajax Amsterdam mendukung gerakan yang menjadi bagian dari sejarah kelam NKRI tersebut?

Tulisan ini bukan untuk menjawab pertanyaan di atas. Pembaca bisa mengartikan sendiri nuansa yang hadir saat Ajax memberi penghormatan kepada Simon.◼︎

Pos terkait