Ada 1,6 Miliar Kasus Peretasan di Indonesia, Mulai dari BPJS sampai Polri Pernah jadi Korban

Ilustrasi. | AI Generate/Samudra Fakta
6. Tiket.com dan Citilink Fiserang Hacker

Pada Oktober 2016, sekelompok hacker remaja berhasil meretas situs jual beli tiket online, Tiket.com di server Citilink. Tak tanggung-tanggung, kerugian yang dialami Tiket.com sebesar Rp4,1 miliar, sedangkan Citilink Rp2 miliar.

Kasus ini terungkap setelah Tiket.com melaporkan pembobolan situsnya ke Bareskrim Polri pada 11 November 2016. Menurut penyelidikan, aksi hacker sebenarnya bukanlah hal yang canggih.

Bacaan Lainnya

Sayangnya, situs-situs tersebut di waktu tersebut kurang memiliki tingkat keamanan yang cukup.

7. Data Pengguna Tokopedia Bocor ke Dark Web

Korban kasus serangan hacker di Indonesia selanjutnya dialami oleh perusahaan e-commerce buatan anak bangsa, Tokopedia. Pada awal Mei 2020, Tokopedia mengalami kebocoran data terhadap 91 juta akun penggunanya dan 7 juta akun merchant.

Data yang berisi nama lengkap, nama akun, email, toko online, tanggal lahir, nomor HP, tanggal mendaftar, serta beberapa data yang terenkripsi berbentuk hash ini diperjualbelikan di dark web seharga USD5.000 atau Rp70 juta.

Tokopedia kemudian segera memeriksa kasus ini dan menyarankan penggunanya untuk rutin mengganti password akun.

8. Pembobolan Database Polri

Polri juga pernah ikut menjadi korban serangan hacker. Di November 2021, hacker dengan nama akun @son1x666 mengeklaim telah meretas database Polri melalui akun Twitternya.

Dalam cuitannya tersebut, ada 28.000 informasi log in dan data pribadi yang dicuri. Selain itu. ada tiga link berisi sampel data yang diduga berasal dari database Polri.

Link itu berisi informasi nama, tempat tanggal lahir, nomor registrasi pokok, alamat, golongan darah, satuan kerja, suku, alamat email, pangkat, hingga pelanggaran anggota.

Menanggapi hal ini, Polri telah memastikan data internal dan sistem keamanan tetap aman. Menurut investigasi, peretasan ini dilakukan oleh hacker yang dikenal seringkali menyerang situs pemerintah.

9. Peretasan Channel YouTube BNPB

Bukan hanya menyerang website, akun channel YouTube juga ikut menjadi sasaran ulah hacker tak bertanggung jawab. Salah satu korbannya adalah kanal YouTube resmi milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Pada Desember 2021, kanal YouTube dengan nama “BNPB Indonesia” berubah nama menjadi “Ethereum 2.0”. Tak sampai di situ, ulah jahil hacker berlanjut dengan menggunakan akun YouTube tersebut untuk melakukan live streaming berjudul “Ethereum CEO: Ethereum Breakout! Ethereum News, ETH 2.0 RELEASE Date”

10. Situs Telkomsel Diserang Hacker

Perusahaan operator seluler Telkomsel juga turut jadi korban kasus hacker. Pada April 2017, website resmi Telkomsel berubah tampilan dengan menampilkan protes terhadap tarif internet yang mahal.

Menurut penyelidikan, peretasan ini diduga terjadi akibat adanya celah keamanan pada web hosting yang dieksploitasi oleh kelompok peretas. Atau username dan password untuk mengakses web hosting jatuh ke tangan peretas.

Menanggapi hal ini, pihak Telkomsel memastikan peretasan sama sekali tidak mengancam keamanan data penggunanya. Karena data terletak di server berbeda yang dilapisi sistem keamanan berlapis, sehingga layanan panggilan telepon dan SMS juga sama sekali tidak terganggu akibat kasus peretasan ini. ***

Pos terkait