Influenza A pada Anak, Dokter Unair Ingatkan Risiko Pneumonia

Ilustraasi penyakit flu pada anak. ---Pixbay

Peningkatan kasus Influenza A pada anak perlu diwaspadai karena dapat memicu komplikasi, termasuk pneumonia pada kondisi tertentu.

Peningkatan kasus Influenza A pada anak menjadi perhatian karena virus tersebut dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan dengan tingkat keparahan yang bervariasi.

Ketua Lembaga Penyakit Tropis (LPT) sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair), dr. Priyo Budi Purwono, M.Si., M.Ked.Klin., Sp.MK., Ph.D., mengatakan peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan dapat dipengaruhi berbagai faktor, antara lain perubahan cuaca dan interaksi antarmanusia.

Menurut Priyo, Influenza A merupakan tipe virus influenza yang dapat menginfeksi saluran pernapasan atas dan bawah. Penularannya dapat terjadi melalui percikan air liur (droplet) saat seseorang batuk atau bersin maupun melalui benda yang telah terkontaminasi virus.

Bacaan Lainnya

Anak-anak dinilai lebih rentan terinfeksi karena sistem imunitasnya masih berkembang dan belum sepenuhnya memahami pembatasan dalam berinteraksi maupun kebiasaan menjaga kebersihan.

“Anak-anak lebih rentan karena mereka belum sepenuhnya memahami pembatasan dalam berinteraksi, termasuk kebiasaan menjaga higiene seperti menutup mulut ketika batuk atau bersin. Selain itu, sistem imunitas anak masih dalam tahap perkembangan sehingga lebih rentan terinfeksi,” jelasnya, Senin (28/9/2026).

Gejala Influenza A

Gejala Influenza A umumnya muncul setelah masa inkubasi sekitar satu hingga tujuh hari. Gejala yang sering muncul meliputi demam, nyeri tubuh, pilek, nyeri saat menelan, dan batuk.

Namun, gejala tersebut sulit dibedakan secara klinis dari infeksi saluran pernapasan lainnya sehingga diagnosis tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan gejala.

Priyo mengatakan sebagian besar kasus Influenza A berada pada tingkat ringan hingga sedang. Meski demikian, kondisi anak tetap perlu dipantau, terutama ketika terjadi penurunan nafsu makan yang dapat mengganggu asupan nutrisi dan daya tahan tubuh.

Komplikasi yang perlu diwaspadai adalah radang paru-paru atau pneumonia. Kondisi yang semakin berat dapat ditandai dengan sesak napas, bunyi napas tambahan, hingga hipoksemia.

“Komplikasi yang perlu diwaspadai adalah radang paru-paru. Jika peradangan semakin berat ditandai dengan sesak napas, bunyi napas tambahan dan menyebabkan hipoksemia. Pada kondisi yang lebih berat, pasien dapat mengalami sesak hingga kegagalan napas,” ujarnya.

Pencegahan Penularan

Pemeriksaan lebih lanjut dapat dilakukan melalui pemeriksaan usap (swab) hidung atau tenggorokan. Pemeriksaan penunjang seperti foto rontgen dada juga dapat dilakukan sesuai indikasi medis.

Untuk mengurangi risiko penularan, Priyo mengingatkan masyarakat menjaga kebersihan, mengurangi interaksi saat sedang sakit, berolahraga, beristirahat cukup, dan mengonsumsi makanan bergizi.

Vaksin influenza juga dapat menjadi salah satu upaya pencegahan.

“Tidak perlu panik. Kita bisa belajar dari pengalaman pandemi sebelumnya dengan menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Jika kondisi semakin parah, berkonsultasi dengan dokter atau fasilitas kesehatan agar mendapatkan penanganan yang sesuai,” pungkasnya. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan