Kekurangan jam tidur pada anak tidak hanya memicu penurunan konsentrasi saat belajar, tetapi juga berisiko menghambat kecerdasan otak hingga memicu stunting. Risiko kesehatan fisik dan mental ini menuntut pemenuhan kecukupan waktu istirahat harian anak sesuai dengan tahapan usianya.
Laporan Alodokter pada Senin (19/10) menekankan bahwa waktu tidur bukan sekadar momen untuk mengistirahatkan tubuh, melainkan fase krusial bagi tumbuh kembang anak.
Gangguan tidur pada anak kerap dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari rasa cemas, penggunaan gawai yang berlebih, hingga gangguan tidur seperti mimpi buruk atau tidur berjalan.
Kebutuhan Waktu Tidur Berdasarkan Usia
Kebutuhan jam istirahat setiap anak bervariasi bergantung pada tahapan usianya. Balita berusia satu hingga dua tahun membutuhkan 11 hingga 14 jam tidur per hari, sedangkan anak prasekolah usia tiga hingga lima tahun memerlukan 10 hingga 13 jam.
Pada kelompok usia sekolah dasar, yakni enam hingga 12 tahun, waktu istirahat yang ideal berkisar antara sembilan hingga 12 jam. Sementara itu, remaja berusia 13 hingga 18 tahun direkomendasikan untuk tidur selama delapan hingga 10 jam setiap harinya.
Dampak pada Otak dan Pertumbuhan Fisik
Penurunan kecerdasan menjadi salah satu risiko utama jika kebutuhan durasi tidur ini tidak terpenuhi. Saat tertidur lelap, otak beristirahat dari tugas harian dan memulihkan fungsinya. Kekurangan tidur secara langsung menurunkan kemampuan berpikir dan mengingat.
Di samping fungsi kognitif, proses pertumbuhan fisik juga sangat bergantung pada fase istirahat ini. Kelenjar di otak memproduksi hormon pertumbuhan secara optimal pada saat anak sedang tertidur.
Gangguan pada produksi hormon ini tidak hanya memperlambat pertumbuhan fisik, tetapi juga dapat berujung pada stunting, terutama apabila tidak diimbangi dengan pemenuhan asupan gizi harian yang memadai.
Penurunan Imunitas dan Stabilitas Emosi
Dampak sistemik lain dari kurang tidur adalah melemahnya sistem kekebalan tubuh. Kondisi ini membuat anak lebih rentan terhadap paparan virus dan bakteri penyebab penyakit umum seperti batuk dan pilek, serta memperlambat masa pemulihan ketika sedang sakit.
Dari sisi psikologis, anak yang kelelahan akibat kurang tidur menunjukkan kecenderungan perubahan suasana hati yang drastis. Konsentrasi yang menurun pada siang hari sering kali menyulitkan mereka untuk memahami pelajaran di sekolah.
Lebih jauh, anak di bawah usia empat tahun yang kurang tidur menjadi lebih rewel dan rentan mengalami tantrum.
Pada kelompok usia yang lebih besar, khususnya remaja sekolah menengah, durasi tidur di bawah enam jam telah dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan kecemasan dan depresi.***





