KH. Wahid Hasyim (3): Memimpin NU karena Kapasitas, Bukan Warisan

Nahdlatul Ulama (NU) didirikan oleh ayah Abdul Wahid Hasyim, KH. Hasyim Asy’ari. Namun demikian, Wahid perlu waktu sampai empat tahun sebelum mengambil keputusan bergabung dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) bentukan ayahnya itu. Dia bergabung bukan karena ‘aji mumpung’ sebagai putra penggede. Dia masuk berdasarkan pertimbangan rasional yang matang. Dan dia punya kapasitas.

Organisasi pertama yang digeluti oleh Wahid Hasyim bukanlah NU—kendati dia bisa saja kalau mau. Lha wong yang bikin NU ayahnya sendiri. Namun, dia memulai kiprahnya di dunia organisasi dengan membentuk wadah bagi pelajar Islam bernama Ikatan Pelajar Islam (IKPI) pada tahun 1936, dua tahun setelah dia pulang dari Makkah pada tahun 1934.

IKPI berkembang pesat dalam tempo yang sangat singkat. Anggotanya mencapai ratusan pemuda. Organisasi ini juga membangun sebuah taman bacaan yang dikenal dengan bibliotheek untuk masyarakat umum. Ratusan buku dengan berbagai bahasa disediakan untuk mendorong kemajuan pengetahuan pemuda pada masa itu.

Wahid Hasyim perlu waktu empat tahun untuk berpikir, apakah bakal bergabung dengan NU atau tidak. Dia benar-benar mempertimbangkannya dengan matang. Dan dia menuliskan dasar pertimbangannya dalam tulisan berjudul Mengapa Saya Pilih Nahdlatul Ulama, yang terbit di Gema Muslimin Tahun ke I, November 1953.

Bacaan Lainnya

“Pada bulan April 1934, ketika saya baru datang dari luar negeri, datanglah permintaan-permintaan dan ajakan-ajakan dari beberapa perhimpunan dan Partai Islam agar saya menggabungkan diri pada mereka. Antaranya dari Nahdlatul Ulama,” tulis Wahid. “Saya tidak segera memenuhi permintaan-permintaan dan ajakan-ajakan itu. Hampir 4 tahun saya menimbang, baru menentukan sikap memasuki salah satu dari pada perhimpunan-perhimpunan atau partai-partai tadi,” lanjutnya.

Sebelum bergabung dengan NU, Wahid melihat dua kemungkinan yang bakal dia lakoni: masuk perhimpunan-perhimpunan atau partai-partai yang telah ada—termasuk NU—atau mendirikan perhimpunan atau partai yang baru.

“Terus terang saya uraikan di sini, bahwa perhimpunan-perhimpunan atau partai-partai di waktu itu saya pandang tidak memuaskan. Perhimpunan A kurang radikal, Partai B kurang pengaruh, Partai C kurang banyak kaum terpelajarnya, Partai D kurang jujur pimpinannya. Seribu satu macam kekurangan-kekurangan di dalam pandangan saya,” tulis Wahid Hasyim selanjutnya.

Pos terkait