Selama memimpin organisasi, Wahid Hasyim sering mengader orang yang dianggapnya mampu dan memiliki potensi untuk melanjutkan perjuangannya.
“Seperti mertua saya, KH. Saifudin Zuhri, yang juga diajak sendiri dengan surat pribadi untuk bertemu, karena (Wahid Hasyim—red) kagum dengan beberapa tulisan mertua saya,” kenang Gus Solah.
Kebiasaan itu seringkali dilakukan Wahid. Tak hanya kepada Saifudin Zuhri—yang notabene merupakan sahabatnya—tetapi juga kepada orang lain. Itu semua dilakukannya murni karena dia peduli pentingnya mencari penerus perjuangan. “Semua anak didiknya dilatih sendiri dan diajar sendiri. Beliau sama sekali tidak takut tersaingi,” tambah Gus Solah.
Wahid Hasyim juga memelopori berdirinya Badan Propaganda Islam (BPI) pada tahun 1945. Anggota-anggotanya dikader agar terampil dan mahir berpidato di muka umum. Dia juga mengembangkan pendidikan di kalangan umat Islam.
Pada Muktamar ke-19 NU di Palembang, tahun 1952, Wahid Hasyim dicalonkan sebagai Ketua Umum. Tetapi dia menolak dan mengusulkan agar KH. Masykur saja yang menempati jabatan itu. Maka dari itulah, akhirnya KH. Masykur terpilih menjadi Ketua Umum PBNU.
Namun, setelah terpilih menakhodari NU, Masykur diangkat menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Ali Arifin. NU pun menonaktifkan Masykur, dan—mau tak mau—Wahid Hasyim ditetapkan sebagai Ketua Umum.
Pada tahun 1952, Wahid Hasyim memprakarsai berdirinya Liga Muslimin Indonesia, yaitu suatu badan federasi yang anggotanya terdiri atas wakil-wakil NU, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dan Darul Dakwah wa al-Irsyad. Dia menjadi ketua, Abikusno Cokrosuyoso sebagai Wakil Ketua I, dan H. Sirajuddin Abbas sebagai Wakil Ketua II.
Seluruh pemikiran progresif dan sepak terjang Wahid Hasyim itu tak lepas dari faktor lingkungan yang membesarkannya. Wahid Hasyim dibesarkan dari tradisi berpikir kritis pesantren, sekaligus mewarisi kharisma ayahnya.
Namun, berbeda dari kebanyakan putra tokoh tersohor saat itu, nalar berpikir Wahid Hasyim tidak melulu berkutat di sekitar pesantren saja. Dia terbuka terhadap segala wacana yang berkembang. Inklusifitas diri terhadap bermacam ideologi dan golongan membawanya sebagai sosok penting yang kerap menjadi jembatan antar-pemikiran.
Kebiasaan menjawab persoalan wāqi’iyyah (faktual) dalam tradisi bahśu al-masāil (musyawarah) pesantren,ditambah bahan bacaan latin dari banyak bahasa, membuat Wahid Hasyim menjadi cendekiawan yang inklusif-demonstratif. Kedekatannya dengan masyarakat pedesaan, ditambah persentuhannya dengan banyak pemikir pembaharu—baik dalam maupun luar negeri—menjadikannya sebagai seorang yang moderat di antara kubu-kubu fanatisme.
Dan praktik keagamaan dan kebangsaan yang diusung Wahid Hasyim adalah manifestasi dari nilai ketuhanan dengan wajah kemanusiaan.—bersambung—
Wijdan | mg-01 | diolah dari berbagai sumber





