Dalam tulisanya itu Wahid Hasyim juga menguraikan kekurangan dan potensi tiap partai, termasuk NU. Dia membandingkan pengaruh prinsip politik tiap perhimpunan—seperti daya gebrak revolusi, gagasan, kuantitas massa, kualitas kaderisasi, dan distribusi wilayah—dan menguraikannya dalam bingkai analisa per kategori secara terstruktur.
Yang unik, dalam tulisannya tersebut, Wahid Hasyim mendebat pikirannya sendiri ketika dia menganalisa NU.
Mulanya dia melihat banyak sisi negatif dari NU. Menurut dia, gerak revolusi NU kala itu terlalu lambat; dimonopoli orang-orang tua; dan terlalu menekankan unsur agama sehingga memberatkan orang muda yang ingin bergabung.
Namun, pada bagian selanjutnya tulisan itu, Wahid ‘mendebat’ premisnya sendiri. Dia menyimpulkan bahwa gerak revolusi yang lambat di tubuh NU kuranglah prinsipil jika dibandingkan luas wilayah yang telah dicakup Jam’iyah. Dia juga berpikir bahwa orang-orang tua di NU sebenarnya tidak memonopoli suara ataupun gerak perhimpunan, karena ternyata mereka juga anggota biasa. Sementara penekanan agama dapat berfungsi sebagai penyaringan proses kaderisasi yang ketat.
Dari tulisan Mengapa Saya Pilih Nahdlatul Ulama itu dapat ditarik tiga prinsip berpikir. Pertama, Wahid Hasyim tegas menghindari kesalahan berpikir atau fallacy of thought. Sebagai informasi, ada sekitar 7 jenis falasi berpikir, dan dalam tulisannya itu, Wahid Hasyim menghindari apa yang disebut sebagai falasi ad auctoritatis—yaitu anggapan bahwa kebenaran ditentukan oleh otoritas, seperti orang yang lebih sepuh ataupun lebih tinggi jabatannya.
Cara berpikir Wahid Hasyim tersebut bisa dianggap sebagai sesuatu yang “ofensif” jika dilihat dari sudut pandang normatif-tradisional. Namun, faktanya, itulah yang dilakukan Wahid Hasyim. Dia memilih skeptis dan mengahabiskan empat tahun hanya untuk memastikan bahwa pilihannya benar-benar tepat. Bukan ‘benar’ karena faktor hubungan darah dengan bapaknya, KH. Hasyim Asy’ari.
Kedua, tulisan Mengapa Saya Pilih Nahdlatul Ulama merefleksikan bahwa Wahid Hasyim adalah pengguna teknik berpikir konvergen atau convergentional thinking yang ulung. Teknik konvergen adalah melihat sesuatu dari sisi berseberangan. Ciri teknik ini adalah adanya penyebutan kekurangan-kekurangan atau variabel-variabel yang saling kontras satu sama lain.
Ketiga, Wahid Hasyim adalah pemikir meta atau meta-thinkers. Pemikir meta itu ibarat lapisan bawang, di mana di luar pemikiran ada pemikiran lain, begitu seterusnya sampai beberapa lapis. Kadang pemikir meta hanya menampakkan dua lapis pemikiran, kadang juga bisa lebih dari itu. Dan dari tiap lapisan, biasanya, pemikir meta mampu menciptakan, jika bukan dialektika antar lapisan, ya evaluasi atas pikirannya sendiri.
Gaya berpikir Hasyim bisa dikatakan tidak umum di kalangan orang Islam pada waktu itu. Pasalnya, kehidupan sehari-hari kala itu masih kental dengan nuansa hierarkis, pengkultusan terhadap figur, sertakeseragaman berpikir dan kesimpulannya. Apa yang diaplikasikan Wahid Hasyim adalah antitesa dari tradisi berpikir umat Islam pada umumnya.
Namun, justru dengan model pemikiran seperti itulah pada akhirnya Wahid Hasyim mantap memutuskan berkecimpung di dalam NU.





