FOMO Konser Bisa Membebani Keuangan Gen Z

Tren Konser
Ilustrasi konser. (Pixabay)

Keinginan mengikuti tren dan mendapat pengakuan sosial dinilai dapat mendorong pembelian tiket di luar kemampuan. Perencanaan anggaran diperlukan agar hiburan tidak membebani keuangan.

Pembelian tiket konser di luar kemampuan keuangan dapat menimbulkan persoalan utang. Dosen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Gancar Candra Premananto, mengingatkan risiko tersebut dalam perilaku konsumsi Generasi Z.

Menurut Gancar, keinginan mengikuti tren dan memperoleh pengakuan dari lingkungan dapat mendorong seseorang membeli tiket secara impulsif, termasuk menggunakan layanan beli sekarang bayar nanti atau pinjaman daring.

“Keputusan menjadi tidak rasional apabila kemampuan membayar tidak sebanding dengan besarnya utang,” katanya dalam keterangan yang dipublikasikan Unair pada 24 Juli 2026.

Bacaan Lainnya

Ia mengingatkan, ketidakseimbangan antara utang dan kemampuan membayar dapat memicu kebiasaan mengambil pinjaman baru untuk menutup kewajiban lama.

Tiga Dorongan Membeli Tiket

Gancar menjelaskan tiga motif yang mendorong pembelian tiket konser, yakni penghargaan terhadap diri sendiri, pencarian kesenangan, dan pengakuan sosial.

Penghargaan terhadap diri sendiri muncul ketika seseorang ingin menikmati hasil kerja kerasnya. Adapun motif mencari kesenangan berkaitan dengan pengalaman hiburan, sementara motif simbolik menyangkut pengakuan dari orang lain.

“Di era media sosial, motif simbolik semakin kuat karena banyak orang ingin memvalidasi status sosialnya melalui pengalaman menghadiri konser tertentu,” ujarnya.

Menurut Gancar, media sosial mempercepat penyebaran informasi konser sekaligus membantu promotor menjangkau calon penonton dengan biaya promosi relatif rendah. Ia menilai kondisi tersebut membuat Indonesia menjadi pasar potensial.

Namun, ia mengingatkan bahwa ketakutan tertinggal tren, atau fear of missing out (FOMO), dapat menjadi tekanan sosial bagi Generasi Z. Persoalan muncul ketika keinginan menonton konser melampaui kemampuan membayar.

Menyiapkan Anggaran Hiburan

Gancar menyarankan penyusunan anggaran bulanan agar rencana menonton konser dapat dipersiapkan sejak awal.

Ia mengusulkan pembagian sekitar 40 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk kebutuhan sosial, 20 persen untuk hiburan, serta 10 persen untuk tabungan maupun investasi.

“Dengan perencanaan yang baik, seseorang dapat mempersiapkan keinginan menonton konser jauh-jauh hari. Sehingga tidak berubah menjadi keputusan konsumsi yang impulsif,” katanya.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan