Tangkal Radikalisme, Akademisi UIN Sebut Tarekat Lokal Jadi Benteng

Ainur Rofiq Al-Amin (paling kanan barisan belakang), Kiai Fathullah, Gus Latif Malik, Gus Wahab Yahya bersilaturrahmi ke KH. Muchtarullah Mujtaba Mu'thi. ( FB Ainur Rofiq Al-Amin)

Akademisi Ainur Rofiq Al-Amin menilai ajaran nasionalisme dalam tarekat, seperti Shiddiqiyyah di Jombang, efektif membendung ideologi khilafah dan memperkuat kedudukan NKRI.

Akademisi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Dr. Ainur Rofiq Al-Amin, menyatakan ajaran tarekat lokal berperan vital menangkal ideologi radikal di Indonesia. Doktrin cinta tanah air dari kelompok sufi dinilai efektif menjaga keutuhan negara.

​”Islam dan NKRI memiliki hubungan yang sangat erat. Keduanya saling berkaitan dan saling dibutuhkan dalam upaya membangun negara ini,” kata mantan aktivis Hizbut Tahrir Indonesia tersebut.

​Ihwal gerakan deradikalisasi, dosen Universitas KH. Wahab Hasbullah Jombang ini menjadikan Tarekat Shiddiqiyyah sebagai contoh utama. Tarekat pimpinan Kyai Moch. Mukhtar Mu’thi ini secara tegas mewajibkan pengikutnya mencintai Indonesia.

Bacaan Lainnya

Sinergi Islam dan Pancasila

Menurut Rofiq, doktrin Hubbul Wathon Minal Iman atau cinta tanah air sebagian dari iman merupakan antitesis bagi kelompok radikal. Ajaran ini menutup ruang bagi masuknya gagasan khilafah yang ingin mengganti tatanan demokrasi.

​Ia menjelaskan bahwa sistem khilafah tidak sesuai dengan bentuk republik. Selain itu, pemaksaan ideologi tersebut berpotensi besar menghapuskan Pancasila yang selama ini menjadi dasar persatuan masyarakat majemuk.

​”Kandungan dari lima sila Pancasila sebisa mungkin ditafsirkan agar selaras dengan ajaran-ajaran Islam, bukan malah dipertentangkan,” ujar penulis buku Membongkar Proyek Khilafah ala Hizbut Tahrir di Indonesia itu.

Aksi Nyata Sosial Tarekat

​Selain itu, cinta tanah air dalam ajaran Shiddiqiyyah tidak sekadar berhenti pada retorika spiritual. Tarekat yang berpusat di Losari, Ploso, Jombang ini mewujudkannya lewat pembangunan rumah layak huni dan program santunan nasional.

​Strategi dakwah kultural ini terbukti berhasil merangkul masyarakat di kawasan utara Sungai Brantas. Pendekatan sosial dan spiritual dianggap lebih relevan bagi warga ketimbang sekadar perdebatan hukum syariat yang formal.

​Sebelumnya, Rofiq menekankan bahwa sinergi antara nilai keislaman dan nasionalisme adalah kunci utama. “Pemahaman ini menjadi benteng kuat bagi generasi muda agar tidak mudah terpapar provokasi anti-NKRI,” jelasnya.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan