Korban berasal dari 19 lembaga pendidikan yang menerima makanan dari SPPG Kalitengah. Sebanyak 65 pasien masih dirawat inap, sementara penyebab pasti keracunan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Jumlah korban dugaan keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, mencapai 512 orang hingga Rabu pagi, 2 September 2026.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan korban berasal dari 19 lembaga pendidikan yang menerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin.
Korban tidak hanya berasal dari Pondok Pesantren Manba’ul Hikam di Desa Putat. Sejumlah siswa TK, SD, SMP, dan SMA swasta yang menerima makanan dari dapur SPPG yang sama juga mengalami keluhan kesehatan.
“Kesamaan dari semua adalah penerima dari SPPG yang sama, mengonsumsi menu yang juga kebetulan sama,” kata Emil, Rabu pagi.
Temuan tersebut sekaligus memperjelas sumber makanan yang dikonsumsi para korban. Makanan bukan dimasak oleh dapur internal Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, melainkan dipasok melalui program MBG dari SPPG Kalitengah.
Namun, penyebab biologis atau kimiawi gangguan kesehatan tersebut belum dapat dipastikan karena masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Sebanyak 65 Pasien Masih Dirawat
Rekapitulasi dari delapan rumah sakit mencatat sedikitnya 500 pasien telah mendapatkan penanganan medis hingga Rabu pagi.
Dari jumlah tersebut, 320 pasien telah diperbolehkan pulang, 65 pasien masih menjalani rawat inap, dan 115 lainnya berada dalam pemantauan atau observasi.
RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo menangani pasien terbanyak, yakni 334 orang. Sebanyak 239 pasien telah dipulangkan, 92 masih diobservasi, dan tiga orang menjalani rawat inap.
RSI Siti Hajar menangani 74 pasien. Sebanyak 29 pasien masih dirawat, 40 telah dipulangkan, dan lima lainnya masih diobservasi.
RSU Aisyiyah Siti Fatimah menangani 47 pasien, terdiri atas delapan pasien rawat inap dan 39 pasien yang sudah diperbolehkan pulang.
Sementara itu, RS Delta Surya menangani 20 pasien, RS Pusura Candi 13 pasien, RS Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong delapan pasien, RS Arafah Anwar Medika tiga pasien, dan RS Anwar Medika satu pasien.
Belum ada penjelasan resmi mengenai perbedaan antara data 512 korban yang disampaikan Emil dan rekapitulasi 500 pasien di delapan rumah sakit. Pemerintah masih melakukan pendataan dan penelusuran terhadap kemungkinan adanya korban yang dirawat mandiri atau belum tercatat dalam rekapitulasi rumah sakit.
Emil memastikan tidak ada korban meninggal dunia. Pernyataan itu sekaligus membantah kabar yang beredar melalui media sosial dan pesan berantai mengenai adanya santri yang meninggal akibat kejadian tersebut.
SPPG Kalitengah Dihentikan Sementara
Badan Gizi Nasional menghentikan sementara operasional SPPG Kalitengah setelah menemukan korban dari sejumlah lembaga yang menerima makanan dari dapur tersebut.
Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur Teguh Bayu Wibowo mengatakan penghentian dilakukan selama proses evaluasi dan pemeriksaan laboratorium berlangsung.
“Untuk saat ini, SPPG kita berhenti operasional. Selanjutnya, hasil laboratorium dan lain-lain kita tunggu untuk satu minggu ke depan,” kata Teguh.
BGN akan melaporkan hasil pemeriksaan dan evaluasi kepada pemerintah pusat. Hasil tersebut menjadi dasar untuk menentukan apakah penghentian operasional hanya bersifat sementara atau dilanjutkan menjadi penutupan permanen.
Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dan kepolisian telah mengambil sampel makanan serta muntahan korban. Sampel diperiksa untuk mengetahui kemungkinan adanya bakteri, zat kimia, atau bentuk kontaminasi lain.
Hingga Rabu pagi, belum ada hasil laboratorium yang memastikan komponen makanan yang menyebabkan para korban mengalami mual, muntah, pusing, sakit perut, diare, dan lemas.
Gejala Muncul Beberapa Jam Setelah Makan
Peristiwa bermula setelah makanan MBG dibagikan kepada para santri dan siswa pada Selasa siang, 1 September 2026.
Menu yang disajikan dilaporkan terdiri atas nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, tumis buncis dan baby corn, serta buah apel.
Makanan dikirim sekitar pukul 10.00 WIB dan dikonsumsi pada kisaran pukul 12.00 hingga 13.00 WIB. Beberapa jam kemudian, sejumlah santri mulai mengalami sakit perut, mual, pusing, dan muntah.
Jumlah korban meningkat setelah waktu Asar. Menjelang malam, puluhan ambulans dikerahkan untuk membawa korban ke rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Sidoarjo.
Sejumlah santri mengatakan olahan sayuran dalam menu tersebut terasa kecut. Keterangan itu masih berupa kesaksian korban dan belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan penyebab keracunan.
Dapur SPPG Kalitengah diketahui telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi. Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo Lakhsmie Herawati Yuwantina juga menyebut sumber air yang digunakan dapur berasal dari PDAM.
Pemeriksaan saat ini diarahkan pada seluruh tahapan penyediaan makanan, mulai dari bahan baku, waktu memasak, penyimpanan, pengemasan, distribusi, hingga kondisi makanan ketika dikonsumsi.
Pemerintah juga meminta sekolah memeriksa absensi siswa pada Rabu pagi. Dinas Kesehatan dan puskesmas akan mendatangi siswa yang tidak masuk untuk memastikan tidak ada korban bergejala yang hanya mendapatkan penanganan mandiri di rumah.***





