13 Tradisi Maulid Nabi di Jawa Timur, dari Ancak Agung hingga Asahan

Tradisi Maulid Nabi di Jawa Timur
Endog-endogan, tradisional Maulid Nabi di Banyuwangi. (Dok. Pemkab Banyuwangi)

Jawa Timur memiliki 13 tradisi unik untuk merayakan Maulid Nabi, mulai Ancak Agung, Endog-endogan, Keresen, hingga rebutan koin dan Sebar Udikan.

Jawa Timur memiliki beragam tradisi dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Perayaan kelahiran Rasulullah SAW tidak hanya dilakukan dengan pengajian, pembacaan selawat atau barzanji, tetapi juga diwujudkan melalui berbagai tradisi khas yang berkembang di tengah masyarakat.

Setiap daerah di Jawa Timur memiliki cara berbeda dalam memeriahkan Maulid Nabi. Ada masyarakat yang menggelar pawai dan arak-arakan, menghias pohon dengan hasil bumi, berbagi makanan, hingga berebut uang dan perlengkapan rumah tangga.

Berbagai tradisi tersebut masih dijalankan masyarakat di sejumlah daerah dengan prosesi dan keunikan masing-masing. Melansir berbagai sumber, berikut sejumlah tradisi Maulid Nabi yang dapat ditemukan di berbagai daerah di Jawa Timur:

Bacaan Lainnya

1. Tradisi Ancak Agung di Situbondo

Tradisi Ancak Agung menjadi salah satu tradisi memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Situbondo. Penelitian UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember menyebut tradisi ini berkembang di Kelurahan Mimbaan, Kecamatan Panji, dengan arak-arakan ancak yang dihias sesuai kreasi masyarakat dan diiringi hadrah.

Sementara penelitian UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tentang Tradisi Ancak Agung di Pondok Pesantren Wali Songo, menyebut salah satu cirinya berupa buah-buahan yang disusun membentuk menara. Rangkaian acaranya meliputi pembacaan Yasin, ceramah agama, Maulid Diba’i, dan doa.

Setelah prosesi selesai, ancak yang berisi makanan tersebut kemudian diperebutkan masyarakat. Tradisi ini juga dimaknai sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, sekaligus mempererat silaturahmi dan kebersamaan warga.

2. Grebeg Maulud di Surabaya

Grebeg Maulud menjadi salah satu tradisi masyarakat Surabaya dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini berkembang di sejumlah wilayah dengan bentuk yang beragam, mulai pawai dan karnaval, arak-arakan gunungan berisi hasil bumi serta jajanan, hingga pertunjukan kesenian hadrah dan Topeng Mauludan.

Salah satu bentuk yang dikenal adalah Grebeg Maulud dengan prosesi mengarak gunungan kemudian membagikannya kepada masyarakat. Tradisi tersebut menjadi simbol rasa syukur, berbagi, kebersamaan, dan kegembiraan dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Di Surabaya, pelaksanaan Grebeg Maulud dapat dijumpai di sejumlah kampung, dengan bentuk dan rangkaian acara yang berbeda-beda karena menyesuaikan karakter masyarakat setempat.

3. Barikan Maulid Nabi di Surabaya

Masyarakat Surabaya juga memiliki tradisi Barikan untuk menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini dilakukan dengan membawa makanan ke masjid untuk didoakan dan kemudian disantap bersama sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Menurut jurnal UINSA Surabaya berjudul “Tradisi Barikan Menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW di Jl Demak Jaya II, Kecamatan Bubutan, Surabaya”, pelaksanaan Barikan biasanya dilakukan pada malam hari setelah salat Isya.

Warga membawa nasi, lauk-pauk, jajanan hingga buah-buahan yang kemudian dikumpulkan untuk didoakan bersama. Rangkaian acara juga disertai pembacaan tahlil, lantunan selawat, tabuhan rebana, dan doa syukur.

Selain makanan, terdapat hiasan berisi uang lembaran, jajanan pasar hingga peralatan rumah tangga yang digantung di lokasi acara. Setelah doa bersama, makanan disantap dan berbagai jajanan maupun hadiah tersebut dapat diambil oleh masyarakat, terutama anak-anak.

Tradisi Barikan tidak sekadar menjadi perayaan Maulid Nabi, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga. Membawa makanan dapat dimaknai sebagai bentuk sedekah, sementara makan bersama menjadi simbol persaudaraan, kesetaraan, dan kebersamaan.

4. Tradisi Brayakan di Surabaya

Brayakan menjadi salah satu tradisi yang turut mewarnai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Surabaya. Tradisi ini identik dengan kegiatan berbagi makanan maupun kebutuhan rumah tangga sebagai bagian dari semangat kebersamaan.

Dalam salah satu pelaksanaannya di Surabaya, Brayakan dilakukan dengan menggantung berbagai suvenir berupa peralatan rumah tangga, seperti gelas plastik, sutil, rantang, dan keranjang. Suvenir tersebut kemudian diambil peserta untuk dibawa pulang sebagai buah tangan.

Tradisi Brayakan menunjukkan bahwa peringatan Maulid Nabi di Surabaya tidak hanya diisi dengan pengajian dan selawat, tetapi juga dapat diwujudkan melalui kegiatan berbagi yang melibatkan masyarakat secara langsung.

5. Pawai Maulid Nabi di Surabaya

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Surabaya juga diramaikan dengan pawai religi. Kegiatan ini biasanya diisi iring-iringan warga menyusuri jalan kampung atau lingkungan sekitar dengan membawa nuansa Islami.

Dalam salah satu pelaksanaannya, pawai Maulid Nabi digelar di Kelurahan Karah, Kecamatan Jambangan. Iring-iringan warga dimulai dari halaman balai kelurahan dan menyusuri gang serta jalan kampung hingga menuju lokasi kegiatan.

Pawai kemudian dilanjutkan dengan berbagai kegiatan bernuansa Islami, seperti penampilan musik hadrah dan lantunan selawat. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari perayaan Maulid Nabi sekaligus sarana mempererat kebersamaan masyarakat.

6. Tradisi Keresen di Mojokerto

Masyarakat Mojokerto memiliki tradisi Keresen dalam memperingati Maulid Nabi. Dalam tradisi ini, pohon kersen dihias dengan menggantung berbagai hasil bumi, buah-buahan hingga kerajinan tangan.

Pohon kersen dipilih karena memiliki banyak akar dan cabang. Hal tersebut menjadi simbol umat Islam yang senantiasa berpegang teguh pada ajaran Rasulullah SAW.

Setelah prosesi selesai, warga kemudian berebut berbagai hasil bumi dan barang yang digantung pada pohon. Tradisi tersebut menjadi simbol kebersamaan sekaligus wujud rasa syukur masyarakat atas kehadiran Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa petunjuk bagi umat manusia.

7. Endog-endogan di Banyuwangi

Endog-endogan menjadi salah satu tradisi khas masyarakat Banyuwangi dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam tradisi ini, telur dihias dengan warna-warni kemudian ditancapkan pada batang pisang atau jodhang yang telah dipercantik menggunakan berbagai ornamen.

Telur dalam tradisi Endog-endogan dimaknai sebagai simbol kelahiran dan kehidupan baru. Sementara jodhang menggambarkan perjalanan manusia dari kegelapan menuju cahaya Islam.

Prosesi biasanya dilakukan melalui arak-arakan yang diiringi lantunan selawat, pembacaan barzanji, dan doa bersama. Setelah selesai, telur-telur hias dibagikan kepada warga sebagai simbol berkah dan kebersamaan.

8. Rebu’en di Probolinggo

Di Probolinggo, warga Desa Sologodek memiliki tradisi Rebu’en dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Berbagai bahan makanan dan perlengkapan salat digantung di langit-langit musala atau masjid.

Setelah pembacaan selawat selesai, warga kemudian berebut barang-barang tersebut. Tradisi Rebu’en tidak hanya menghadirkan suasana meriah dalam peringatan Maulid Nabi, tetapi juga memperlihatkan semangat kekompakan dan gotong royong masyarakat.

9. Muludhen di Madura

Muludhen menjadi salah satu tradisi yang lekat dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Madura. Perayaan biasanya diawali dengan pembacaan barzanji yang mengisahkan riwayat hidup Nabi Muhammad SAW.

Kegiatan kemudian diselingi ceramah keagamaan yang mengajak masyarakat meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Remaja hingga ibu-ibu datang ke masjid atau musala dengan membawa nasi tumpeng dan aneka buah. Setelah pembacaan doa, sajian tersebut dinikmati bersama sebagai bentuk syukur, kebersamaan dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

10. Sebar Udikan di Madiun

Tradisi Sebar Udikan di Desa Kedondong, Kabupaten Madiun, memiliki cara perayaan yang cukup unik. Warga memeriahkan Maulid Nabi dengan menyebarkan uang koin untuk kemudian diperebutkan anak-anak hingga orang dewasa.

Tradisi tersebut menjadi bentuk sedekah yang dilakukan dalam suasana ceria. Selain memeriahkan peringatan Maulid Nabi, Sebar Udikan juga menjadi sarana menumbuhkan rasa kebersamaan dan kegembiraan di tengah masyarakat.

11. Rebutan Koin di Kediri

Di Kediri, tradisi rebutan koin masih dilestarikan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Wakaf Jamsaren. Setelah salat Isya berjamaah, takmir bersama jemaah melemparkan uang koin dengan berbagai pecahan. Uang tersebut kemudian diperebutkan anak-anak maupun orang dewasa.

Tradisi yang disebut telah berlangsung sejak 1908 ini bukan sekadar memeriahkan Maulid Nabi. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana mengajak anak-anak agar lebih rajin datang dan beribadah di masjid sekaligus mengenalkan kebiasaan berbagi melalui sedekah.

12. Siraman Pusaka Gong Kyai Pradah di Blitar

Peringatan Maulid Nabi di Blitar juga diramaikan tradisi Siraman Pusaka Gong Kyai Pradah. Setiap tahun, gong pusaka tersebut dimandikan menggunakan air bunga sebagai bentuk penghormatan sekaligus upaya melestarikan peninggalan sejarah.

Air bekas siraman gong dipercaya sebagian masyarakat dapat membawa ketenteraman batin dan menyembuhkan penyakit. Tradisi ini berkaitan dengan legenda Pangeran Prabu yang mengajarkan pentingnya ritual penyucian sebagai simbol kehidupan yang bersih, tenteram dan penuh berkah.

13. Tradisi Maulid dengan Asahan di Pasuruan

Masyarakat Desa Kalirejo, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, memiliki tradisi asahan dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan yang diisi dengan pembacaan Diba’ dan kegiatan berbagi makanan antarwarga.

Melansir jurnal UINSA Surabaya berjudul “Tradisi Maulid Nabi Muhammad Saw di Desa Kalirejo Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan”, warga membawa asahan berupa makanan ringan, buah-buahan, kue, hingga bahan kebutuhan pokok seperti minyak goreng dan gula.

Setiap kepala keluarga membawa satu asahan untuk kemudian ditukar menggunakan nomor acak setelah pembacaan Diba’. Rangkaian tradisi berlanjut pada pagi hari dengan pembacaan doa. Warga kembali membawa asahan berupa nasi putih atau nasi kuning lengkap dengan lauk-pauk, seperti ayam, mi, tahu, dan tempe.

Tradisi asahan tidak hanya menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi, tetapi juga menjadi sarana berbagi dan mempererat silaturahmi. Keterlibatan warga dalam menyiapkan dan saling bertukar makanan mencerminkan semangat gotong royong serta kebersamaan masyarakat. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan