Gunung Piramid Bondowoso Kembali Makan Korban, APGI Ungkap Bahaya Jalur Ekstrem

Gunung Piramid
Gunung Piramid di Bondowoso memiliki jalur ekstrem. - Eastjava supertrip

Popularitas Gunung Piramid memang meroket di era media sosial karena visualnya yang indah dan instagramable. Namun, keindahan tersebut dinilai menutupi fakta betapa mematikannya medan di lapangan.

Pendaki asal Surabaya, Maliya Finda dan pemandunya Irfan Nasrul Laili yang hilang di Gunung Piramid Bondowoso ditemukan meninggal jatuh ke jurang. Kuat dugaan, keduanya meninggal setelah terjatuh.

Berdasarkan keterangan tim SAR, kedua korban ditemukan pada kedalaman sekitar 60–70 meter dari jalur pendakian dengan kemiringan tebing mencapai sekitar 60 derajat. Dugaan sementara, keduanya meninggal akibat terjatuh ke jurang saat melintasi jalur sempit di kawasan Gunung Piramid.

Kasus tersebut kembali menambah daftar panjang insiden berbahaya di jalur pendakian ekstrem Gunung Piramid. Jalur yang dikenal sangat terjal dan diapit jurang ini sebenarnya berstatus ilegal dan ditutup resmi oleh pihak berwenang.

Bacaan Lainnya

Sejak tahun 2019 hingga Agustus 2026, tercatat sudah ada 3 kasus kecelakaan utama di Gunung Piramid yang menelan total 4 korban jiwa.

Gunung Piramid dinamakan demikian karena bentuk fisik puncaknya dari kejauhan tampak simetris, menjulang runcing, dan menyerupai bangunan piramida raksasa. Gunung setinggi 1.521 mdpl ini terletak di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, dan merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Argopuro.

Popularitas Gunung Piramid memang meroket di era media sosial karena visualnya yang indah dan instagramable. Namun, keindahan tersebut dinilai menutupi fakta betapa mematikannya medan di lapangan. Pihak Perhutani telah melarang aktivitas pendakian di Gunung Piramid. Banyaknya kecelakaan terjadi akibat pendaki awam yang nekat naik hanya modal penasaran tanpa memperhitungkan risiko.

Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) Jawa Timur menilai tingginya angka kecelakaan di Gunung Piramid disebabkan oleh minimnya pemahaman pendaki terhadap karakter medan. Gunung Piramid dikategorikan sebagai gunung taktikal yang membutuhkan strategi khusus serta peralatan teknis pendakian.

Pengurus APGI Jawa Timur, Chuk SW, mengungkapkan bahwa hasil analisis tim di lapangan menunjukkan mayoritas korban kecelakaan di Gunung Piramid mendaki dengan perlengkapan yang sangat minim.

“Dari analisis kawan-kawan di lapangan, diduga karena perlengkapan minim. Sementara Gunung Piramid adalah gunung taktikal yang butuh strategi khusus untuk mendaki. Medannya sangat berat tanpa alat,” ujar Chuk SW, dikutip Kamis (6/8/2026).

Chuk menyoroti bahwa sejak di pos awal pendakian, indikasi minimnya persiapan para pendaki sudah terlihat jelas. Bahkan, berdasarkan keterangan warga lokal, beberapa pendaki yang mengalami kecelakaan diketahui tidak membawa perlengkapan teknis sama sekali.

Karakteristik bahaya Gunung Piramid terletak pada ekosistem jalurnya yang sangat sempit dan curam. Mulai dari Pos 1, Pos 2, Pos 3, area Punggung Naga, hingga mendekati puncak, lebar jalur pendakian rata-rata hanya berukuran sekitar 30 cm, layaknya pematang sawah.

Di kanan dan kiri jalur setapak tersebut membentang jurang terjal dengan sudut kemiringan (elevasi) mencapai 45 hingga 60 derajat dan kedalaman berkisar antara 100 hingga 400 meter. Kondisi ini diperparah dengan ketiadaan vegetasi besar yang bisa dijadikan pegangan saat pendaki kehilangan keseimbangan.

“Ndak bisa salipan dan tidak bisa disalip atau nyalip, sama seperti pematang sawah. Bahaya Gunung Piramid adalah medan ekstrem dengan jalur hanya seukuran 30 cm dengan kanan-kiri jurang sedalam 100 sampai 300 meter,” tegas Chuk.

Ia menambahkan, meski seorang pendaki memiliki pengalaman di gunung lain, karakter Gunung Piramid tidak bisa disamakan. Gunung ini menuntut penggunaan alat keselamatan khusus seperti tali pengaman, harness, dan alat pemanduan teknis.

Chuk bahkan menceritakan hasil pemetaan yang pernah dilakukan APGI bersama organisasi Wanadri pada tahun 2020 lalu. Saat itu, rekomendasi tegas telah disampaikan kepada pihak Perhutani dan Bupati Bondowoso selaku pemangku wilayah.

“Saat pemetaan, salah satu pendaki profesional sempat mengatakan, pendaki Gunung Piramid tanpa alat yang pulang selamat itu mukjizat. Salah satu pendaki lainnya yang sudah Seven Summits pun mendaki Gunung Piramid tanpa alat tidak berani. Artinya betapa bahayanya Gunung Piramid jika didaki tanpa persiapan,” kata Chuk. ***

Pos terkait