Mitos kesehatan dari micin bikin bodoh hingga biji cabai picu usus buntu sering menyesatkan. Cek fakta medis dari KlikDokter berikut agar tak keliru.
Mitos dipercaya masyarakat karena disampaikan dari mulut ke mulut berupa berita, nasihat, atau anjuran. Jika yang tersebar adalah mitos seputar kesehatan, absennya fakta medis bisa menimbulkan salah kaprah dan menyesatkan masyarakat.
Tak hanya satu, biasanya orang mempercayai rentetan mitos. Misalnya, tidak makan setelah olahraga lebih efektif untuk menurunkan berat badan, dan masih banyak lagi.
Sebagai contoh lain, ada mitos yang menyalahkan karbohidrat sebagai penyebab obesitas. Padahal, kebiasaan sehari-hari yang tidak sehat juga bisa menjadi pemicu obesitas. Misalnya saja, jarang berolahraga dan hanya duduk sembari makan camilan.
Berikut ini adalah daftar mitos kesehatan yang tak perlu dipercaya, seperti dikutip dari laman klikdokter, Senin (20/7/2026):
1. Mengatasi Mabuk Dengan Segelas Kopi
Ini adalah mitos yang tidak benar. Minum kopi tidak akan membuat kadar alkohol dalam tubuh menurun. Kopi memang mengandung kafein yang bekerja sebagai zat stimulan di otak.
Kafein adalah topeng yang mengelabui otak sesaat bahwa Anda sedang tak mabuk, sehingga Anda tampak segar dan berenergi.
Selain itu, minum kopi setelah konsumsi alkohol bisa saja membuat keluhan lain seperti mual, muntah, nyeri perut, berdebar-debar, hingga perasaan gelisah atau tak nyaman.
2. Makan Wortel Mempertajam Penglihatan
Wortel termasuk sebagai makanan sehat karena mengandung vitamin A yang bermanfaat bagi penglihatan.
Namun, Anda harus makan banyak sekali wortel untuk dapat merasakan manfaat nyatanya. Artinya, memakan wortel dalam jumlah sedikit tidak akan memberikan dampak yang instan.
Selain makan wortel untuk menjaga kesehatan mata, Anda bisa mengonsumsi makanan yang kaya akan antioksidan dan omega-3, misalnya berbagai jenis sayuran hijau, buah-buahan, telur, ikan, dan daging.
3. Langsung Berenang Setelah Makan Sebabkan Kram
Sebetulnya tidak ada bukti yang mendukung mitos ini. Kram memang bisa terjadi saat berenang, tetapi ini bukan disebabkan oleh makanan yang Anda makan.





