Drama 106 menit di New York New Jersey Stadium, Amerika Serikat, menahbiskan Spanyol sebagai penguasa baru jagat sepak bola. Lewat pertarungan melelahkan dan penuh intrik, La Roja sukses merebut trofi Piala Dunia untuk kedua kalinya setelah menjinakkan sang juara bertahan, Argentina, dengan skor tipis 1-0 dalam final Piala Dunia 2026, Senin (20/7/2026).
Pahlawan kemenangan Spanyol tak lain adalah Ferran Torres. Masuk sebagai pemain pengganti, penggawa Barcelona FC itu memecah kebuntuan pada menit ke-106. Memanfaatkan umpan sundulan Nico Williams yang menyambut crossing terukur Pedro Porro, Torres melepas tembakan geledek yang menembus pertahanan Argentina.
“Gol ini bukan milik saya atau 26 pemain di tim ini. Ini gol untuk 47 juta rakyat Spanyol! Semuanya seperti sudah tertulis di garis bintang,” seru Torres dengan mata berkaca-kaca seperti dilansir situs resmi FIFA.
Sejak peluit pertama dibunyikan, anak asuh Luis de la Fuente langsung memegang kendali permainan. Lamine Yamal, wonderkid berusia 19 tahun, sudah meneror pertahanan Albiceleste saat laga baru berjalan lima menit. Namun, Emiliano ‘Dibu’ Martinez tampil bak kesurupan di bawah mistar Argentina.
Ketangguhan pertahanan Argentina membuat barisan penyerang Spanyol frustrasi. Berkali-kali peluang emas dari Mikel Oyarzabal, Pau Cubarsi, hingga Pedri mentah di tangan kiper Aston Villa tersebut. Puncaknya, di penghujung waktu normal, Dibu melakukan penyelamatan terbang heroik untuk menepis tendangan bebas Yamal.
Petaka bagi Argentina sejatinya sudah dimulai sejak babak pertama. Pelatih Lionel Scaloni harus memutar otak setelah dua bek tengah andalannya tumbang karena cedera. Lisandro Martinez ditarik keluar digantikan Nicolas Otamendi sebelum turun minum, disusul Cristian Romero yang digantikan Facundo Medina pada menit ke-70.
Penderitaan Argentina kian lengkap di masa injury time babak kedua. Enzo Fernandez diusir wasit setelah menerima kartu kuning kedua akibat melanggar Pau Cubarsi. Bermain dengan 10 orang, Argentina dipaksa bertahan total. Statistik mencatat, saking dominannya Spanyol, Lionel Messi dkk bahkan tidak mampu melepaskan satu pun tembakan ke gawang sebelum babak perpanjangan waktu.
Akhir Indah nan Terhormat
Meski kalah, Argentina pulang dengan kepala tegak. Lionel Messi (39 tahun 25 hari) resmi memecahkan rekor sebagai pemain outfield tertua yang tampil di final Piala Dunia, melewati rekor Gunnar Gren (Swedia) pada edisi 1958.
“Kami sedih, tapi kami tahu kami telah meninggalkan seluruh jiwa kami di lapangan. Spanyol memang bermain lebih baik, itu kenyataannya. Kami harus berjiwa besar dalam kekalahan,” ungkap entrenador Argentina, Lionel Scaloni, dengan ksatria.
Pelatih Luis de la Fuente juga mencatatkan tinta emas. Di usia 65 tahun 28 hari, ia menjadi pelatih tertua yang mampu mengangkat trofi kepingan surga tersebut, melampaui rekor Vicente del Bosque pada 2010 silam.
“Saya bangga dengan generasi ini. Mereka bermain seperti sebuah keluarga. Kami sempat menderita, tetapi ini adalah final Piala Dunia. Dan kini, Spanyol berada di puncak dunia,” tegas De la Fuente.
Kemenangan ini juga mengukuhkan dominasi total Spanyol di kancah sepak bola global. Mereka kini menyandingkan trofi Piala Dunia Pria 2026 dengan trofi Piala Dunia Wanita yang mereka raih pada 2023. Viva La Roja!
Data & Fakta Dari New Jersey
-
1 – Spanyol mencetak rekor sebagai tim juara dengan kebobolan paling sedikit dalam sejarah Piala Dunia, yakni hanya kemasukan 1 gol sepanjang turnamen.
-
7 – Kiper Unai Simon menahbiskan diri sebagai raja clean sheet baru dalam satu edisi Piala Dunia dengan catatan 7 laga tanpa kebobolan.
-
38 – La Roja memperpanjang rekor fantastis mereka dengan 38 laga beruntun tak terkalahkan di waktu normal sejak Maret 2024, mematahkan rekor abadi milik Italia (37 laga).
-
Remaja Emas – Lamine Yamal dan Pau Cubarsi (19 tahun) mengikuti jejak Pele (1958) dan Kylian Mbappe (2018) sebagai remaja yang langsung mencicipi gelar juara saat tampil di final Piala Dunia.***





