Empat Sarjana Calon Pengelola Kopdes Merah Putih Meninggal saat Latihan Militer

Ilustrasi: Empat peserta SPPI meninggal dalam kurang dari dua pekan saat menjalani latsarmil. Pemerintah menyatakan belum menemukan indikasi kelalaian dan akan mengevaluasi pelatihan.

Dalam kurang dari dua pekan, empat peserta SPPI meninggal saat menjalani latsarmil di satuan TNI. Pemerintah belum temukan indikasi kelalaian.

Empat orang sarjana calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih meninggal dunia dalam rentang kurang dari dua pekan saat mengikuti latihan dasar kemiliteran yang diwajibkan pemerintah sebagai bagian dari program rekrutmen pengelola koperasi.

Korban terakhir, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, meninggal di RSAU dr. Esnawan Antariksa pada 26 Juni 2026 pukul 00.28 WIB setelah mengalami sesak napas saat menjalani pendidikan di Satuan Pendidikan Yon Parako 465.

Apa Itu SPPI dan Latsarmil Kopdes?

Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) adalah skema rekrutmen pemerintah untuk mengisi posisi manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) — dua program unggulan Presiden Prabowo Subianto yang ditargetkan beroperasi di ratusan ribu desa dan kelurahan di seluruh Indonesia.

Bacaan Lainnya

Peserta yang lolos seleksi diwajibkan menjalani latihan dasar kemiliteran di berbagai satuan pendidikan TNI sebelum ditugaskan. Latsarmil ini dirancang untuk membentuk kedisiplinan dan karakter kerja para calon pengelola koperasi yang akan mengelola aset dan distribusi barang di tingkat desa.

Upacara pembukaan pendidikan digelar pada 17 Juni 2026 di lapangan Dirgantara AAU, Yogyakarta.

Empat Kematian dalam 10 Hari

Kematian pertama terjadi pada hari yang sama dengan pembukaan pendidikan. Yonanda Muhammad Taufiq, peserta latsarmil di Satdik Pusat Latihan Tempur Kodiklatad Baturaja, mengalami penurunan kondisi fisik pada 17 Juni 2026 dan dirujuk ke rumah sakit. Ia dinyatakan meninggal akibat henti jantung.

Sehari kemudian, 18 Juni, Anisa Muyassaroh yang mengikuti pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan, mengalami gangguan kesehatan. Ia meninggal akibat serangan panas — kondisi darurat ketika suhu inti tubuh melampaui 40 derajat Celsius dan sistem pengaturan suhu tubuh gagal berfungsi.

Korban ketiga, Novia Rahmadhani Sihotang, meninggal pada 23 Juni 2026 saat menjalani pendidikan di Satdik Pusat Bahasa Kodiklatau, Jakarta. Kemhan mengonfirmasi Novia meninggal akibat tuberkulosis.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan