Sebanyak 50,3 persen anak yang disurvei UNICEF pernah melihat gambar seksual di media sosial. Ketika layar semakin lama menemani masa kanak-kanak, algoritma perlahan mengambil ruang yang dahulu ditempati orang tua dan guru.
Lebih dari separuh anak yang terlibat dalam sebuah studi UNICEF mengaku pernah melihat gambar seksual di media sosial. Sebanyak 42 persen lainnya merasa takut atau tidak nyaman akibat pengalaman mereka di internet. Namun, hanya 37,5 persen yang pernah menerima informasi mengenai cara menjaga diri saat berada di ruang digital.
Angka-angka itu memperlihatkan sebuah perubahan yang berlangsung nyaris tanpa suara. Masa kanak-kanak kini tidak hanya tumbuh di rumah, sekolah, dan lingkungan pergaulan. Sebagian darinya berlangsung di dalam layar—ruang yang tidak mengenal jam tidur dan terus menawarkan tontonan baru berdasarkan jejak perhatian penggunanya.
Di situlah algoritma mulai mengambil peran menyerupai pengasuh.
Ia mengamati video yang ditonton seorang anak, berapa lama matanya bertahan, konten mana yang dilewati, dan tayangan apa yang membuat jarinya berhenti menggulir. Dari pola itu, mesin menyusun rekomendasi berikutnya. Sedikit demi sedikit, ia turut menentukan apa yang dianggap lucu, menarik, normal, bahkan benar.
Algoritma tentu tidak menggantikan orang tua secara harfiah. Ia tidak menyiapkan sarapan, mengantar anak ke sekolah, atau menemani mereka ketika demam. Namun, ketika waktu bersama layar lebih panjang daripada percakapan di rumah, pengaruhnya dapat menyusup ke wilayah yang jauh lebih dalam: selera, emosi, bahasa, pandangan tentang tubuh, hingga cara seorang anak melihat orang lain.
Masa Kecil di Dua Dunia
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan 72,78 persen penduduk Indonesia berusia lima tahun ke atas telah mengakses internet pada 2024. Pada anak usia dini, publikasi BPS sebelumnya juga memperlihatkan bahwa penggunaan telepon seluler dan akses internet bukan lagi gejala pinggiran.
Masa kecil hari ini berjalan di dua dunia sekaligus. Di ruang nyata, anak belajar melalui sentuhan, teguran, percakapan, dan keteladanan. Di ruang digital, mereka berhadapan dengan arus gambar, suara, dan gagasan yang bergerak lebih cepat daripada kemampuan keluarga untuk memeriksanya satu per satu.




