Dua Dekade Lumpur Lapindo, Sungai Porong Berubah

Lumpur Sidoarjo
Luapan lumpur Sidoarjo. - Wikipedia
Dua puluh tahun setelah semburan lumpur Sidoarjo, riset ITS menunjukkan Sungai Porong mengalami perubahan ekologi besar yang masih menyisakan ancaman bagi biota air.

Tepat 20 tahun setelah semburan lumpur melanda Sidoarjo pada 29 Mei 2006, dampaknya masih terekam jelas di ekosistem Sungai Porong yang selama ini menjadi jalur utama pengaliran lumpur.

Pakar ekotoksikologi dan fisiologi hewan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dewi Hidayati, menjelaskan bahwa masuknya material lumpur dalam jumlah besar telah mengubah karakter dasar sungai secara signifikan.

Bacaan Lainnya

“Sedimentasi masif ini memicu lonjakan kekeruhan air atau total padatan tersuspensi secara ekstrem di sepanjang aliran sungai dan perubahan komposisi substrat secara nyata,” ujarnya, Jumat, 29 Mei 2026.

Insang Ikan Rusak, Habitat Berubah

Menurut Dewi, lumpur yang didominasi tanah liat halus mengubur dasar sungai yang sebelumnya berupa pasir dan kerikil. Partikel berukuran sangat kecil kemudian menempel pada insang ikan hingga mengganggu fungsi pernapasan.

“Paparan ini memicu kerusakan jaringan insang yang parah, seperti hiperplasia dan nekrosis sel,” paparnya.

Penelitian juga menemukan kerusakan pada sisik ikan. Melalui pemindaian mikroskop elektron, tim peneliti melihat deformasi struktur pelindung tubuh ikan yang membuat sisik lebih mudah terlepas dan rentan terhadap infeksi.

Namun, di tengah tekanan lingkungan tersebut, ekosistem Sungai Porong menunjukkan kemampuan beradaptasi. Spesies ikan yang sensitif terhadap kekeruhan perlahan menghilang dan digantikan jenis yang lebih tahan hidup di habitat berlumpur.

“Ekosistem hilir kini mulai didominasi oleh spesies tangguh yang mampu beradaptasi di habitat berlumpur seperti ikan keting, belanak, dan beloso,” ungkap Dewi.

Ancaman Logam Berat Masih Mengintai

Selain sedimentasi, penelitian ITS juga mencatat adanya emisi gas yang mengandung metana dan belerang di sekitar kawasan semburan lumpur.

Analisis kualitas air menunjukkan tingginya kandungan logam berat seperti aluminium dan besi. Menurut Dewi, logam aluminium dapat menjadi sangat berbahaya apabila tingkat keasaman air berubah menjadi lebih asam.

Pos terkait