Pakar Unair mengingatkan panitia kurban menjaga hewan tetap prima sebelum disembelih agar daging aman, sehat, dan layak konsumsi.
Pakar Universitas Airlangga Dr drh Nusdianto Triakoso MP mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kondisi hewan kurban sebelum penyembelihan. Hewan yang stres dapat memengaruhi kualitas daging yang dikonsumsi warga.
Dr Nus mengatakan, ada tiga tahap penting yang harus diperhatikan panitia kurban. Tahap itu meliputi sebelum penyembelihan, saat penyembelihan, dan setelah penyembelihan. Dua tahap pertama dinilai sangat menentukan mutu daging.
“Lebih baik, hewan kurban dikirim sehari sebelum penyembelihan berlangsung dan tempat penampungan sementaranya juga perlu diperhatikan, serta saat menyembelih juga ada standar dan triknya agar hewan kurban tidak stres nantinya,” kata Dr Nus, dikutip Rabu, 27 Mei 2026.
Kenali Tanda Hewan Sehat
Menurut Dr Nus, masyarakat dapat mengenali hewan kurban sehat dari sejumlah tanda sederhana. Hewan yang sehat umumnya lincah, responsif terhadap lingkungan, bernapas normal, dan tidak menunjukkan gejala tidak wajar pada lubang tubuh.
Ia mengingatkan panitia memperhatikan kondisi mata, telinga, mulut, dan bagian belakang hewan. Jika ditemukan kotoran, leleran, napas tidak wajar, atau bagian belakang basah karena diare, hewan tersebut perlu dicurigai tidak sehat.
“Itu tanda-tanda yang mudah dilihat oleh orang awam untuk menentukan hewan kurban sehat atau tidak,” kata Dr Nus.
Panitia juga disarankan membawa hewan ke lokasi penampungan minimal 24 jam sebelum disembelih. Tujuannya agar hewan sempat beristirahat setelah perjalanan dan tidak langsung mengalami tekanan fisik maupun psikologis.
Lokasi kandang sementara sebaiknya dipisahkan dari area penyembelihan. Hewan yang menunggu giliran tidak boleh melihat atau mendengar proses penyembelihan hewan lain karena dapat memicu rasa takut.
Jangan Asah Pisau di Depan Hewan
Dr Nus juga mengingatkan panitia agar tidak mengasah pisau di depan hewan kurban. Tindakan yang terlihat sederhana itu dapat membuat hewan takut dan stres sebelum proses penyembelihan berlangsung.
Saat penyembelihan, sapi perlu direbahkan dengan teknik lembut. Ia menyebut metode Burley dan lilitan tali dapat membantu sapi rebah perlahan, bukan jatuh terbanting karena kakinya ditarik secara kasar.
Pisau yang digunakan juga harus sangat tajam. Menurut Dr Nus, pemotongan ideal dilakukan cepat dan tepat pada tiga bagian, yakni saluran darah, saluran napas, dan saluran cerna, agar rasa sakit hewan dapat diminimalkan.
Setelah penyembelihan, daging dan organ dalam perlu dipisahkan. Organ hijau, terutama saluran pencernaan, memiliki risiko kontaminasi lebih tinggi sehingga harus dikelola hati-hati dan tidak dicampur dengan daging bersih.
Limbah seperti darah dan isi perut juga tidak boleh dibuang sembarangan. Pengelolaan yang bersih akan membantu mencegah penyebaran penyakit dan menghasilkan daging sesuai prinsip ASUH, yakni Aman, Sehat, Utuh, dan Halal.***





