1.600 Kapal Terjebak, Damai Iran–AS Menggantung

Ilustrasi ketegangan antara Washington dan Teheran saat ribuan kapal tertahan di Selat Hormuz dan negosiasi damai belum mencapai titik temu. AI GENERATE
Serangan Iran ke UEA pecahkan gencatan senjata. Ribuan kapal nelangsa di Hormuz. Kesepakatan damai masih jauh dari kata final.

Negosiasi perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat (AS) belum menghasilkan terobosan, meski kedua pihak mengklaim sudah mendekati titik temu. Di lapangan, lebih dari seribu kapal komersial masih tertahan di kawasan Selat Hormuz — jalur energi terpenting di dunia yang tersumbat sejak perang dimulai.

Pemerintah Iran menyatakan sedang meninjau proposal damai terbaru AS. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan Teheran akan menyampaikan posisinya kepada perantara Pakistan setelah merumuskan respons resmi.

Namun di Washington, kepastian tak kunjung datang. Trump menghindari pertanyaan soal status gencatan senjata, sementara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa untuk mencapai perdamaian, Iran harus menyetujui tuntutan Trump soal program nuklir sekaligus membuka kembali Selat Hormuz.

Bacaan Lainnya
Operasi Hormuz Gagal, Iran Perketat Cengkeraman

AS meluncurkan inisiatif baru untuk mengawal kapal-kapal komersial melewati Selat Hormuz. Militer AS menyatakan dua kapal berbendera Amerika berhasil transit sebagai bagian dari operasi tersebut. Namun operasi itu segera menghadapi perlawanan keras.

Iran memperingatkan bahwa “setiap kekuatan militer asing — khususnya militer AS yang agresif — yang berniat mendekati atau memasuki Selat Hormuz akan dijadikan sasaran.”

Iran juga memperketat aturan navigasi, mewajibkan kapal-kapal komersial berkoordinasi dengan militernya sebelum berlayar.

Serangan ke UEA Pecahkan Gencatan

UEA menuduh Iran melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak pada 4 Mei 2026 — pertama kalinya sejak gencatan senjata 8 April. Satu pesawat nirawak Iran memicu kebakaran besar di Kawasan Industri Perminyakan Fujairah dan melukai tiga warga negara India.

Kementerian Pertahanan UEA mengonfirmasi sistem pertahanan udaranya mencegat 15 rudal dan empat pesawat nirawak yang ditembakkan Iran. Serangan berlanjut keesokan harinya.

Kementerian Luar Negeri UEA menyebut serangan itu sebagai “eskalasi berbahaya dan pelanggaran yang tidak dapat diterima.”

Iran melalui media pemerintahnya membantah keterlibatan dalam eskalasi tersebut.

Beijing Jadi Variabel Penentu

Trump tetap melanjutkan rencana pertemuan puncak dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14–15 Mei, meski pejabat China dilaporkan tidak nyaman dengan jadwal itu selama perang Iran belum selesai.

Menjelang pertemuan itu, Menteri Luar Negeri China Wang Yi mendesak Iran untuk mengejar penyelesaian diplomatik, menghentikan permusuhan, dan segera membuka kembali lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Trump sendiri telah memperingatkan: jika Iran tidak menyetujui kesepakatan, serangan akan dimulai kembali dengan “tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi.” Sementara parlemen Iran membalas bahwa Teheran siap memberikan respons yang menimbulkan penyesalan jika AS tak memberi konsesi.

Dengan pertemuan Trump–Xi tinggal hitungan hari, nasib ribuan kapal — dan stabilitas energi global — kini bergantung pada diplomasi yang belum juga menemukan jalannya.***

Pos terkait