Menlu Iran Abbas Araghchi mendarat di Beijing pagi ini untuk bertemu Wang Yi, sepekan jelang kunjungan Trump ke China di tengah krisis Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri Iran Seyyed Abbas Araghchi tiba di Beijing pada Rabu pagi waktu setempat untuk bertemu mitranya, Menlu China Wang Yi. Kunjungan ini menjadi lawatan perdana Araghchi ke Tiongkok sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari 2026.
Kementerian Luar Negeri Iran melalui kanal Telegram resminya menyatakan Araghchi akan membahas hubungan bilateral serta perkembangan regional dan internasional. Kemenlu RRT mengonfirmasi kunjungan berlangsung 6 Mei atas undangan resmi Beijing.
Rangkaian Diplomasi Tehran
Lawatan Beijing merupakan kelanjutan tur diplomatik Araghchi yang sebelumnya menyambangi Pakistan, Oman, dan Rusia. Pada 27 April, ia bertemu Presiden Vladimir Putin di Saint Petersburg untuk memperkuat dukungan Moskow terhadap posisi Tehran.
China merupakan mitra dagang terbesar Iran sekaligus pembeli minimal 90 persen ekspor minyak mentahnya. Wang Yi dan Araghchi telah melakukan setidaknya tiga kali pembicaraan telepon sejak perang dimulai, terakhir pada 15 April lalu, di mana Wang menegaskan kesiapan Beijing memfasilitasi de-eskalasi.
Sepekan Jelang Trump ke Beijing
Kunjungan Araghchi berlangsung kurang dari sepuluh hari sebelum Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan tiba di Beijing pada 14-15 Mei 2026 untuk bertemu Presiden Xi Jinping. Pertemuan tingkat tinggi tersebut sempat tertunda akibat eskalasi perang Iran.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mendesak Beijing menyampaikan langsung kepada Araghchi bahwa tindakan Iran di Selat Hormuz menyebabkan Tehran “terisolasi secara global”. Rubio menyatakan beberapa negara telah menyatakan kesediaan mendukung Project Freedom, operasi maritim AS untuk mengamankan navigasi di Selat Hormuz.
Latar Konflik
Trump pada Selasa mengumumkan penangguhan sementara Project Freedom untuk memberi ruang negosiasi dengan Tehran, meskipun blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran tetap berjalan. Pengumuman tersebut menyusul rangkaian serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz dan fasilitas minyak Fujairah di Uni Emirat Arab pada Senin.





