Trump menyerang Paus Leo XIV setelah pemimpin Katolik itu mengecam ancaman terhadap Iran dan menyerukan perang segera dihentikan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerang Paus Leo XIV setelah pemimpin Gereja Katolik itu mengkritik perang Iran dan mendesak deeskalasi. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut Paus “lemah terhadap kejahatan” dan “buruk” dalam kebijakan luar negeri.
Mengutip laporan Reuters, serangan itu muncul setelah Paus Leo dalam beberapa hari terakhir mengecam ancaman terhadap rakyat Iran, dan menyerukan agar jalur damai kembali dibuka. Vatikan, hingga kini, belum memberi tanggapan resmi atas pernyataan terbaru Trump itu.
Trump memperluas serangannya ke ranah politik. Associated Press melaporkan, ia menuding Paus terlalu liberal dan menyiratkan bahwa kepemimpinan Paus Leo berseberangan dengan garis politik pemerintahannya.
Benturan Soal Perang
Paus Leo sebelumnya menyebut ancaman untuk menghancurkan rakyat Iran sebagai sesuatu yang “benar-benar tidak dapat diterima”. Ia lalu kembali menyuarakan penolakan terhadap perang dalam doa dan seruan publik beberapa hari sesudahnya.
Associated Press juga melaporkan Paus mengkritik apa yang ia sebut sebagai “khayalan kemahakuasaan” yang mendorong perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran. Meski tidak selalu menyebut Trump secara langsung, arah kritik itu dinilai jelas.
Paus Tidak Takut
Sementara itu, Paus Leo XIV menyatakan tidak takut terhadap pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pernyataan itu ia sampaikan kepada wartawan dalam penerbangan dari Roma menuju Aljazair, Senin, 13 April 2026, saat polemik antara Vatikan dan Gedung Putih memanas.
“Saya tak takut dengan pemerintahan Trump,” kata Paus Leo, dikutip dari ANTARA, Senin (13/4/2026). Pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu menegaskan tetap akan bersuara menentang perang karena berpegang pada ajaran Injil.
Dalam keterangannya, Paus Leo juga menepis kemungkinan adu mulut terbuka dengan Trump. “Saya tak berniat berdebat dengannya,” ujar Paus Leo. Sikap itu muncul setelah Vatikan berulang kali menyerukan penghentian perang dan pembukaan kembali jalur dialog.***





