Serangan balasan Iran meluas ke seluruh Teluk Persia pada 7 April 2026. Jembatan Raja Fahd ditutup, empat warga sipil Israel tewas di Haifa, dua pembangkit listrik Kuwait lumpuh.
Perang Iran memasuki hari ke-39 dengan gelombang serangan yang meluas. Iran menghujani Arab Saudi, Israel, Kuwait, dan negara-negara Teluk lainnya dengan rudal dan pesawat nirawak.
Sementara tekanan diplomatik memuncak menjelang batas waktu yang ditetapkan Washington.
Jembatan Raja Fahd Ditutup Sementara Akibat Perang
Jembatan Raja Fahd — satu-satunya penghubung darat antara Arab Saudi dan Bahrain sepanjang 25 kilometer — ditutup Selasa pagi (7/4) oleh otoritas setempat.
Penutupan dipicu oleh serangan Iran yang menargetkan Provinsi Timur Arab Saudi.

Rangkaian serangan Iran ke Arab Saudi selama beberapa pekan terakhir sudah merusak berbagai sasaran strategis. Lima pesawat pengisian bahan bakar Angkatan Udara AS di Pangkalan Udara Prince Sultan rusak akibat rudal Iran.
Kilang minyak Aramco di Ras Tanura mengalami kebakaran terkendali. Riyadh dan Provinsi Timur berulang kali menjadi sasaran rudal dan pesawat nirawak, meski sebagian besar berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Arab Saudi yang dibantu sistem Patriot dari Yunani.
Empat Warga Sipil Tewas di Reruntuhan Haifa
Di Israel, empat warga sipil dilaporkan tewas setelah rudal balistik Iran menghantam gedung hunian di Haifa pada Senin (6/4). Tim penyelamat mengevakuasi jenazah dari reruntuhan — sepasang suami istri lanjut usia, seorang pria berusia 40-an, dan seorang perempuan berusia 35 tahun.
Serangan berlanjut hingga Selasa dini hari (7/4/2026). Sirene berbunyi di seluruh Israel selatan termasuk Beersheba.
Di kawasan utara Haifa, lebih dari 10 titik hantaman dilaporkan terkena serangan Iran.
Selama akhir pekan 3–4 April, Iran meluncurkan 14 rudal balistik ke Israel — tujuh ke wilayah utara, lima ke tengah, dan satu ke arah Yerusalem. Puing dan munisi tandan berjatuhan di kawasan sipil: Kiryat Ata, Haifa, sebuah gedung hunian di Bnei Brak, dan sebuah sekolah di pusat kota Tel Aviv.
Lebih dari 6.800 korban telah dirawat di rumah sakit sejak perang dimulai, sebagaimana dikutip Alma Research Center.
Kuwait dalam Kegelapan
Sementara itu, serangan Iran ke Kuwait menyebabkan kerusakan serius pada infrastruktur energi. Dua pembangkit listrik dan satu pabrik desalinasi air bersih Kuwait ditarget pesawat nirawak Iran, memaksa sebagian kawasan mengalami pemadaman listrik.
Kompleks perkantoran kementerian pemerintah Kuwait juga rusak akibat serangan tersebut.
Di Uni Emirat Arab (UEA), pabrik aluminium Emirates Global Aluminium di kawasan industri Al Taweelah, Abu Dhabi, mengalami kerusakan parah — diprediksi butuh hingga satu tahun untuk pulih.
Hingga 4 April, UEA mencatat 498 rudal balistik, 2.141 pesawat nirawak, dan 23 rudal jelajah Iran berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara THAAD dan Patriot, menewaskan 13 orang dan melukai 217 lainnya, dikutip Wikipedia.
Pembalasan Iran Berlanjut Bersamaan dengan Upaya Diplomasi
Komando militer pusat Iran memperingatkan bahwa “jika serangan terhadap target sipil diulangi, tahap-tahap berikutnya dari operasi pembalasan kami akan jauh lebih dahsyat dan meluas.”
Situasi ini terjadi di tengah upaya diplomatik terakhir.
Mesir, Pakistan, dan Turki mengajukan proposal gencatan senjata 45 hari yang sedang dipertimbangkan kedua pihak.
Pakistan menyampaikan tawaran itu melalui jalur langsung antara utusan khusus AS dan Menteri Luar Negeri Iran, dilansir CNN.
Teheran menolak gencatan senjata sementara dan menekankan perlunya penghentian perang permanen.
Sementara itu, Iran terus memperkuat tekanan ekonomi global. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz anjlok dari 150 kapal per hari sebelum perang menjadi hanya 10–20 kapal saat ini.
Harga minyak Brent menyentuh USD109 per barel — naik 65 persen dibanding sebelum perang dimulai.***





