Di bulan yang seharusnya penuh ketenangan, Iran menemukan dukungan moral dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei.
Dini hari tadi, saat sebagian besar Indonesia baru saja menuntaskan takbiran, Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, mengetik sesuatu dalam Bahasa Indonesia di akun X-nya. Bukan sekadar ucapan selamat Lebaran, tetapi juga terima kasih yang dalam.
“Selamat Hari Raya Idul fitri 1447 H,” tulisnya. Kalimat pembuka yang lazim. Tapi yang mengikuti di belakangnya, itulah yang membuat unggahan ini lebih dari sekadar seremoni diplomatik.
Ketika Solidaritas Melintasi Lautan
Dalam unggahannya, Minggu (22/3/2026) dini hari, Araghchi secara khusus menyebut tiga negara: Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Ia mengapresiasi dukungan serta kecaman negara-negara Asia Tenggara itu terhadap apa yang disebutnya sebagai “agresi brutal Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap bangsa Muslim Iran di bulan Ramadan.”
Selamat Hari Raya Idulfitri. Terima kasih kpd pemerintah & masyarakat Muslim serta pencinta keadilan di Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Brunei) yg mengecam agresi brutal Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap bangsa Muslim Iran di bln Ramadan serta menunjukkan solidaritas.
— Seyed Abbas Araghchi (@araghchi) March 21, 2026
Kalimat itu merujuk pada eskalasi ketegangan yang terjadi di bulan suci, ketika serangan yang melibatkan AS dan Israel menargetkan Iran. Di tengah tekanan geopolitik yang membayangi, dukungan moral dari Asia Tenggara—jauh dari pusaran konflik—menjadi sesuatu yang tampaknya sangat berarti bagi Teheran.
Bunga, Surat, dan Langkah Nyata
Ucapan terima kasih ini bukan tanpa alasan. Sebelumnya, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, telah lebih dulu menyampaikan apresiasinya. Dalam sebuah pesan video yang diunggah Rabu (18/3), ia menceritakan hal-hal yang mungkin luput dari sorotan utama.
Rakyat Indonesia, katanya, memberikan dukungan dengan berbagai cara. Ada yang mengirim ratusan karangan bunga. Ada yang menulis surat—ratusan, bahkan ribuan. Ada pula yang meluangkan waktu untuk datang langsung ke Kedutaan Besar Iran di Jakarta. Tujuannya satu: menyampaikan belasungkawa dan mengutuk serangan yang dinilai membabi buta itu, terutama di bulan yang seharusnya penuh rahmat.
“Semoga semangat kemanusiaan, persaudaraan, serta solidaritas antara Indonesia dan Iran tetap terjaga dan semakin kuat,” ujar Boroujerdi.
Makna di Balik Ucapan
Araghchi, dalam unggahannya yang menggunakan Bahasa Indonesia, tidak hanya berbicara sebagai diplomat. Ia berbicara sebagai perwakilan dari sebuah bangsa yang tengah merasakan pahitnya konflik internasional, dan mendapati bahwa ada pihak lain—jauh di Asia Tenggara—yang bersedia menyuarakan keprihatinan.
“Terima kasih kepada pemerintah dan masyarakat Muslim serta pencinta keadilan di Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Brunei) yang mengecam agresi brutal… serta menunjukkan solidaritas,” tulisnya.
Unggahan itu, meski singkat, menyiratkan pesan bahwa dalam politik global, solidaritas moral memiliki bobot yang tak selalu diukur dengan kekuatan militer atau ekonomi. Kadang, cukup dengan karangan bunga dan surat yang dikirimkan dari kejauhan.
Indonesia di Persimpangan Solidaritas
Bagi Indonesia, apresiasi dari Iran ini menegaskan kembali peran yang kerap dimainkan di kancah internasional: sebagai suara yang lantang menyuarakan keadilan, terutama dalam isu-isu yang menyentuh kemanusiaan dan solidaritas Muslim global. Dalam berbagai momen konflik, Indonesia memang sering mengambil posisi yang tegas—meski harus berjalan di tengah dinamika hubungan dengan negara-negara besar lainnya.
Pesan Boroujerdi bahwa dukungan datang “dengan berbagai cara” juga menunjukkan bahwa solidaritas tidak selalu harus dalam bentuk tindakan politik formal. Kadang, itu datang dari warga yang datang ke kedutaan, dari karangan bunga yang dikirim, dari unggahan yang menyuarakan keprihatinan.
Lebaran yang Berbeda
Di hari kemenangan ini, Iran merayakan Idul Fitri dengan luka yang masih membekas akibat serangan yang terjadi beberapa pekan sebelumnya. Namun di tengah itu, ada secercah pengakuan bahwa mereka tidak sendirian.
Ucapan Lebaran Araghchi dalam Bahasa Indonesia bukan sekadar formalitas. Ia adalah pengakuan diplomatik bahwa ada ikatan yang melampaui kepentingan politik—ikatan yang dibangun oleh solidaritas kemanusiaan.
Bagi Indonesia, ini adalah pengingat bahwa peran di kancah internasional tidak hanya diukur dari kekuatan ekonomi atau militer. Kadang, yang paling membekas adalah ketika sebuah bangsa memilih untuk tidak diam.
Dan bagi Iran, di Lebaran tahun ini, ada satu hal yang mungkin turut mewarnai kebahagiaan mereka: bahwa di Asia Tenggara, ada saudara yang mendengar.***





