Awal Cerita Kebo Bule Ikut Kirab Malam 1 Suro Kasunanan Surakarta

SURAKARTA | SAMUDRA FAKTA—Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar kirab pusaka setiap malam 1 Muharram—atau 1 Suro dalam penanggalan Jawa. Acara yang digelar untuk memperingati Tahun Baru Islam ini identik dengan kebo bule sebagai sarana kirab.

Kebo bule yang digunakan pun tidak boleh sembarangan, harus berasal dari keturunan kebo bule Kiai Slamet. Konon, kerbau bule di Keraton Surakarta merupakan hadiah dari Bupati Ponorogo untuk Raja Paku Buwono II, sekitar abad 17.

Ketika Pangeran Mangkubumi melakukan pemberontakan, Raja Paku Buwono II harus mengungsi ke Ponorogo.

“Beliau tinggal di tempat Bupati Ponorogo hingga pemberontakan berakhir. Di tempat ini Sinuhun Paku Buwono II mendapat petunjuk gaib bahwa pusaka Kiai Slamet milik Keraton Surakarta harus dikawal oleh sepasang kerbau bule, agar Karaton Surakarta menjadi aman dan langgeng,” ujar Kangjeng Raden Arya Tumenggung (KRAT) Ahmadi Hadinagoro, Srati Mahesa yang ada di Boyolali, dikutip Rabu, 19 Juli 2023.

Bacaan Lainnya

Mendengar perkataan raja itu, Bupati Ponorogo teringat bahwa dia memiliki sepasang kerbau bule. Dua kerbau itu kemudian dia persembahkan kepada Raja.

Setelah perang usai, Paku Buwono II pun membawa sepasang kerbau bule ke Keraton Kartasura. Selama bertahun-tahun dan turun-temurun, kerbau bule menjadi penjaga pusaka Kiai Slamet.

Nama Kiai Slamet, yang sebenarnya merupakan nama pusaka yang konon berupa tombak pun melekat pada kerbau bule. Maka, setiap malam 1 Suro kerbau bule ini menjadi cucuk lampah pusaka Kiai Slamet yang dikirab bersama pusaka-pusaka keraton lainnya.

Menurut KRAT Ahmadi Hadinagoro, selama menjadi Srati Kerbau turun Kiai Slamet, dia memiliki pengalaman unik. Setiap malam Jumat Pahing kerbau bule ini minta dikirabkan di Alun-Alun Pengging.

“Pernah suatu malam Jumat Pahing kerbau ini membuka kandang dan keluar menuju Alun-Alun Pengging, berjalan memutar satu kali, kemudian pulang lagi ke kandangnya. Maka tidak heran jika setiap malam Jumat Pahing pasti berisik, minta dikeluarkan dari kendang untuk dikirabkan mengelilingi Alun-Alun lun Pengging,” kata KRAT Ahmadi Hadinagoro.

Pos terkait