Kemendikdasmen rilis Mudik Asyik Baca Buku. Mendikdasmen ubah tugas siswa dari LKS menjadi baca dan resensi buku demi literasi.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi meluncurkan program ‘Mudik Asyik Baca Buku’. Lewat program ini, pemerintah mendirikan stan buku gratis di sembilan titik lokasi mudik utama.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti membuka langsung program ini di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Senin (16/3). Dalam kesempatan tersebut, Mu’ti membawa kabar penting terkait arah baru kebijakan pendidikan dasar di Indonesia.
Tinggalkan LKS, Fokus pada Literasi Sejak Dini
Mu’ti menyatakan pemerintah sedang meramu perubahan kebijakan terkait penugasan siswa. Ke depan, guru tidak lagi membebani siswa dengan Lembar Kerja Siswa (LKS). Sebagai gantinya, siswa akan mendapat tugas membaca buku.
Tidak sekadar membaca, anak-anak juga harus menuliskan resensi atau ulasan singkat mengenai buku tersebut. Langkah ini pemerintah ambil untuk membangun pondasi literasi anak sejak usia dini.
”Menulis resensi singkat dari apa yang mereka baca membiasakan anak untuk menuliskan apa yang mereka lihat dan alami. Inilah yang kami sebut dengan literasi sejak dini,” jelas Mu’ti.
Ubah Posisi Pojok Baca agar Lebih Strategis
Pemerintah sebenarnya sudah lama bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional untuk menghadirkan pojok baca di berbagai fasilitas publik seperti stasiun, bandara, dan terminal. Namun, Mu’ti menyoroti tingkat partisipasi masyarakat yang masih rendah.
Ia pun berseloroh bahwa fasilitas tersebut sepi peminat karena posisinya yang benar-benar berada di “pojok”.
”Karena letaknya di pojok, saya sering mengamati jarang ada orang yang mau mojok di sana,” canda Mu’ti. Ia berharap ke depannya fasilitas baca ini bisa bergeser ke area tengah atau lokasi yang lebih strategis sehingga masyarakat lebih mudah menjangkau dan membaca buku sambil menunggu jadwal keberangkatan.
Interaksi Hangat dan Pembagian 24 Ribu Buku
Selain meresmikan stan, Mu’ti menyempatkan diri menyapa langsung para pemudik di stasiun. Ia berbincang hangat dengan sebuah keluarga yang hendak pulang kampung ke Kemranjen, Banyumas.
Mengetahui keluarga tersebut akan mudik selama dua minggu, Mu’ti langsung memberikan apresiasi dan membagikan beberapa buku tambahan untuk sang anak. Interaksi ini memperlihatkan antusiasme pemerintah dalam mendekatkan buku kepada anak-anak secara personal.
Secara keseluruhan, Kemendikdasmen membagikan 24 ribu buku secara gratis. Mayoritas buku tersebut menyasar anak-anak agar mereka memiliki teman perjalanan yang mendidik.
Bagi masyarakat yang sedang dalam perjalanan mudik, stan buku gratis ini tersedia di sembilan lokasi berikut:
- Stasiun Pasar Senen
- Stasiun Gambir
- Terminal Kalideres
- Terminal Kampung Rambutan
- Terminal Pulo Gebang
- Terminal Pakupatan Serang
- Bandara Halim Perdanakusuma
- Pelabuhan Tanjung Priok
- Pelabuhan Merak
Program ‘Mudik Asyik Baca Buku’ membuktikan bahwa perjalanan pulang kampung bisa menjadi momentum yang tepat untuk belajar. Melalui transisi kebijakan dari LKS ke budaya membaca dan menulis resensi, Kemendikdasmen menunjukkan keseriusannya dalam merevolusi cara belajar anak Indonesia. Langkah nyata ini harapannya mampu mencetak generasi masa depan yang tidak hanya pandai menjawab soal, tetapi juga kritis, literat, dan gemar membaca.***





