Virus Nipah secara alami ditemukan pada kelelawar buah dari genus Pteropus.
World Health Organization (WHO) melaporkan satu pasien yang memiliki kontak dengan virus Nipah meninggal dunia pada Januari 2026 lalu.
Dalam laporan WHO yang dirilis pada Jumat, 6 Februari 2026 disebutkan pasien asal Bangladesh yang meninggal berjenis kelamin perempuan berusia 40-50an tahun yang tinggal di Distrik Naogaon, Rajshahi. Pasien tersebut menunjukkan gejala berupa demam dan neurologis pada 21 Januari 2026. Sekitar seminggu kemudian pasien meninggal dunia,
Hingga kini memang belum ada kasus terkonfirmasi Virus Nipah pada manusia di Indonesia. Namun pemerintah telah mengeluarkan peringatan dini dan imbauan kewaspadaan sebagai langkah antisipasi. Kebijakan tersebut diambil untuk merespons dinamika penyebaran penyakit di kawasan Asia Tenggara sekaligus memastikan kesiapsiagaan sistem kesehatan nasional agar mampu mencegah masuknya virus ke tanah air.
Masyarakat diimbau tetap waspada tanpa panik. Dengan tingkat kematian yang tinggi dan sumber penularan yang berasal dari hewan liar, Virus Nipah dinilai memiliki potensi menjadi ancaman kesehatan global bila tidak diantisipasi dengan baik.
Vella Rohmayani, Dosen Teknologi Laboratorium Medis (TLM) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), menjelaskan bahwa Virus Nipah secara alami ditemukan pada kelelawar buah dari genus Pteropus.

