Kabar duka selebgram Lula Lahfah membuka kembali percakapan publik tentang GERD—penyakit yang kerap dianggap sepele, tetapi menyimpan risiko serius bila diabaikan.
Lula Lahfah diketahui memiliki riwayat Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) sebelum ditemukan meninggal dunia di apartemennya. Informasi tersebut segera memantik perhatian, bukan hanya karena sosoknya dikenal luas di media sosial, tetapi juga karena GERD masih sering disalahpahami sebagai “maag biasa”.
Secara medis, GERD adalah kondisi kronis ketika asam lambung berulang kali naik ke kerongkongan. Refluks ini mengiritasi dinding esofagus—saluran yang seharusnya steril dari cairan asam. Berbeda dengan gastritis atau maag, yang merupakan peradangan pada lambung, GERD menyerang wilayah di atasnya, dengan sensasi dan risiko yang berbeda.
Perbedaan ini kerap luput. Banyak pasien menyamakan nyeri ulu hati, rasa panas di dada, dan mual sebagai satu paket gangguan lambung. Padahal, lokasi gangguan menentukan arah diagnosis—dan juga tingkat bahayanya.
Sensasi Terbakar yang Tak Sekadar Nyeri
Gejala paling umum GERD dikenal sebagai heartburn: rasa panas atau terbakar di dada, biasanya muncul setelah makan atau saat tubuh berbaring.
Ada pula regurgitasi, ketika cairan asam atau sisa makanan terasa naik hingga ke kerongkongan atau mulut. Pada sebagian kasus, keluhan disertai nyeri dada yang meniru gejala serangan jantung, kesulitan menelan, batuk kering kronis, hingga suara serak berkepanjangan.
Di titik inilah GERD menjadi penyakit yang membingungkan. Gejalanya bisa menipu, bahkan bagi penderitanya sendiri. Nyeri dada yang terasa menekan sering membuat pasien panik, sementara sumber masalahnya justru berasal dari saluran cerna, bukan jantung.
Katup yang Melemah, Asam yang Naik
Penyebab utama GERD adalah melemahnya sfingter esofagus bawah—katup otot yang berfungsi mencegah isi lambung naik kembali ke atas. Ketika katup ini tidak menutup sempurna, asam lambung dengan mudah mengalir ke kerongkongan.
Sejumlah faktor diketahui memperburuk kondisi ini: obesitas, kehamilan, serta konsumsi makanan tertentu seperti makanan berlemak, pedas, cokelat, kafein, dan alkohol. Pola makan berlebihan dan kebiasaan langsung berbaring setelah makan turut memperbesar risiko.
Dalam keterangan medis yang dikutip dari Granostic Diagnostic Center, penanganan GERD menuntut disiplin jangka panjang. Perubahan gaya hidup menjadi fondasi awal—mengurangi porsi makan, memberi jeda sebelum berbaring, dan meninggikan posisi kepala saat tidur.
Bila perlu, terapi obat seperti antasida, penghambat reseptor H2, atau Proton Pump Inhibitors (PPI) seperti omeprazole diresepkan dokter. Pada kasus tertentu yang tidak responsif terhadap obat, tindakan medis atau pembedahan untuk memperkuat katup esofagus menjadi pilihan terakhir.
Risiko yang Mengintai dalam Diam
Secara ilmiah, GERD tidak dikategorikan sebagai penyebab kematian langsung. Namun dunia medis sepakat: membiarkannya tanpa pengobatan adalah undangan bagi komplikasi serius.
Paparan asam yang terus-menerus dapat memicu luka, perdarahan hebat, hingga perubahan sel yang berujung pada kanker esofagus. Risiko lain yang tak kalah berbahaya adalah pneumonia aspirasi—infeksi paru akibat cairan asam masuk ke saluran pernapasan.
GERD juga sering dikaitkan dengan palpitasi, sensasi jantung berdebar yang terasa di dada hingga tenggorokan. Bukan karena penyakit ini menyerang jantung secara langsung, melainkan akibat stres, nyeri, dan respons saraf yang menyertainya. Sekali lagi, gejala yang tampak “kardiak” justru berakar di sistem pencernaan.
Kepergian Lula Lahfah menjadi pengingat sunyi bahwa penyakit kronis tak selalu hadir dengan alarm keras. Ada yang datang perlahan, berulang, dan dianggap biasa—hingga suatu hari, risikonya menjadi nyata.***





