Google PHK 200 Pekerja Kontrak AI, Diduga Terkait Protes Upah

Ilustrasi - Sora/Samudrafakta
Lebih dari 200 tenaga kontrak Google dipecat dalam sebulan terakhir tanpa pemberitahuan. Mereka sebelumnya bertugas menilai kualitas chatbot Gemini, di tengah protes soal upah dan kondisi kerja.

___________

Google dilaporkan memberhentikan lebih dari 200 pekerja kontrak yang terlibat dalam proyek kecerdasan buatan (AI) dalam sebulan terakhir. Pemutusan kontrak ini terjadi tiba-tiba, tanpa pemberitahuan lebih dulu.

Mengutip laporan Wired dan Techspot (16/9), para pekerja terdampak kebanyakan berbasis di Amerika Serikat dan tergabung dalam program “super rater”. Program ini berisi tenaga ahli dengan latar pendidikan master hingga doktoral, yang ditugaskan mengevaluasi dan menulis ulang respons chatbot AI Google, termasuk Gemini.

Bacaan Lainnya

Namun, sejumlah pekerja mengaku diberitahu bahwa pengurangan skala proyek menjadi alasan kontrak mereka dihentikan. Dokumen internal GlobalLogic—anak usaha Hitachi yang mengelola perekrutan—menyebut, perusahaan tengah melatih sistem AI agar bisa melakukan penilaian otomatis, pekerjaan yang selama ini dikerjakan manusia.

Ironisnya, pekerja yang diberhentikan sejatinya sedang melatih sistem yang berpotensi menggantikan peran mereka sendiri.

Pemutusan kontrak ini juga berlangsung di tengah protes pekerja soal rendahnya upah, kondisi kerja buruk, hingga ketidakpastian status kerja. Beberapa menuding langkah ini sebagai bentuk pembalasan atas upaya pembentukan serikat yang sempat mencuat awal tahun.

GlobalLogic pun dituding menerapkan praktik quiet firing. Juli lalu, perusahaan itu mewajibkan pekerja di Austin, Texas kembali ke kantor. Bagi yang tidak bisa hadir karena kendala kesehatan atau finansial, pilihan yang tersisa hanya mundur.

Menanggapi isu ini, Google menegaskan pihaknya tidak langsung mempekerjakan para pekerja kontrak. “Individu yang terdampak adalah karyawan GlobalLogic atau subkontraktornya, bukan Alphabet. Sebagai pemberi kerja, GlobalLogic bertanggung jawab atas ketenagakerjaan dan kondisi kerja,” kata juru bicara Google, dikutip Techspot.

Google juga menyebut pihaknya rutin melakukan audit terhadap perusahaan pemasok sesuai Supplier Code of Conduct.***

Pos terkait