Tak hanya bayi, kini tren membuang orang tua ke panti jompo makin marak. Anak merasa terbebani, lalu menitipkan orangtua hingga meninggal dan enggan datang saat pemakaman.
__________
Tren memilukan tengah terjadi di sejumlah kota. Tak hanya bayi yang dibuang karena aib, kini para orang tua juga dibuang anak-anaknya ke panti jompo. Alasannya, para lansia dianggap menjadi beban saat ekonomi keluarga pas-pasan.
Pemandangan itu terlihat jelas di Griya Lansia Khusnul Khatimah, Malang, Jawa Timur. Pengelola panti menyebut, banyak lansia datang karena dititipkan anak-anaknya. Bahkan hingga meninggal dunia di sana. Ironisnya, sang anak menandatangani kesepakatan untuk tak lagi menjenguk, termasuk saat kematian orang tua mereka.
“Anak-anak itu dengan sadar membuat perjanjian tak akan datang jika orang tuanya meninggal,” ujar pihak pengelola panti.
Prof. Ari Pradanawati, Sosiolog dan Guru Besar FISIP Universitas Diponegoro (Undip), menilai fenomena ini sebagai pergeseran budaya. “Budaya kita mewajibkan anak merawat orang tua. Tapi sekarang, ada pergeseran nilai, terutama di generasi milenial,” kata Ari, dikutip Sabtu, 2 Agustus 2025.
Ia menekankan perlunya mengubah konotasi negatif soal panti jompo. “Daripada disebut tempat pembuangan, sebutlah ‘rumah masa tua’ yang nyaman dan lengkap fasilitasnya,” imbuhnya.
Senada, Dr Unika Prihatsanti, Psikolog dan Dosen Fakultas Psikologi Undip, menyebut banyak orangtua merasa anak adalah “investasi masa depan” yang kelak akan merawat mereka. Namun, ia mengakui bahwa pandangan ini perlu dimaknai ulang.
“Kita tidak bisa menyalahkan jika anak tak bisa mendampingi orangtuanya, apalagi jika mereka bekerja,” ujarnya.
Menurut Unika, istilah seperti “jompo” juga sudah tidak relevan. Kini ia lebih memilih menyebutnya sebagai “adiyuswa”, atau usia bijaksana.
Secara psikologis, para adiyuswa ini memerlukan pemenuhan kebutuhan fisik, kognitif, dan emosional. Jika kebutuhan emosional tidak terpenuhi, mereka rentan merasa kesepian. Justru karena itu, beberapa lansia lebih memilih tinggal di panti jompo karena merasa lebih punya teman.





