Pesawat dan Tank Serbu Gaza, Utusan Israel ‘Omon-omon’ Gencatan Senjata di Washington

Warga membawa jenazah remaja Palestina Amjad Nassar Awad, 15 tahun, yang tewas dalam serangan Israel di Tepi Barat. Foto:SS Arab News
Deru pesawat tempur dan gemuruh tank Israel kembali menghantam Gaza dari utara hingga selatan, Selasa, 1 Juli 2025. Di tengah derasnya serangan, orang kepercayaan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terbang ke Washington untuk membahas kemungkinan gencatan senjata. Omon-omon lagi?

____

Serangan udara dan darat kembali menghancurkan rumah-rumah di Shejaia, Zeitoun, Khan Younis, dan Rafah. Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bahwa dua warga Palestina, termasuk seorang anak laki-laki berusia 15 tahun, tewas akibat tembakan tentara Israel dalam dua insiden terpisah pada Selasa, 1 Juli 2025 dini hari.

“Pagi ini, Amjad Nassar Abu Awad, remaja berusia 15 tahun, meninggal dunia setelah ditembak pasukan Israel di kota Ramallah,” ujar pernyataan resmi dari kementerian tersebut.

Bacaan Lainnya

Selain itu, korban lainnya, Samer Bassam Zagharneh (24), juga dilaporkan tewas akibat tembakan Israel di dekat kota Dhahiriya, wilayah Tepi Barat bagian selatan.

Militer Israel belum memberikan penjelasan rinci. Dilansir Arab News, mereka hanya mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa kedua insiden tersebut “sedang dalam penyelidikan”.

Suasana duka menyelimuti Rumah Sakit Ramallah. Sekitar 20 orang, mayoritas remaja laki-laki, berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Abu Awad. Mereka menangis dan menyentuh wajah remaja tersebut yang terbaring di kamar mayat, diterangi cahaya lampu rumah sakit.

Insiden ini menambah daftar panjang korban jiwa dari kalangan anak-anak dan remaja Palestina. Pekan lalu, dua remaja berusia 13 dan 15 tahun juga dilaporkan tewas di kota Al-Yamoun dan Kafr Malik, Tepi Barat. Total sedikitnya  20 warga sipil dilaporkan tewas. Namun, hingga berita ini diturunkan, militer Israel belum memberi komentar resmi.

“Saya tak bisa tidur. Suara ledakan dari tank dan pesawat terus menggema. Rumah-rumah di Jabalia dan timur Gaza porak-poranda,” ujar Ismail, warga Sheikh Radwan di Kota Gaza. Ia menolak nama lengkapnya ditulis karena alasan keamanan.

Ribuan warga kembali mengungsi. Mereka mendirikan tenda-tenda darurat di jalan-jalan kota setelah perintah evakuasi baru diumumkan. Tank-tank Israel juga dilaporkan bergerak ke arah timur Kota Gaza dan memperluas serangan hingga ke Khan Younis dan Rafah.

Di tengah situasi genting itu, Menteri Urusan Strategis Israel Ron Dermer—orang kepercayaan Netanyahu—muncul di Washington. Menurut Juru Bicara Trump, Karoline Leavitt, Dermer dijadwalkan bertemu para pejabat Gedung Putih untuk menjajaki peluang diplomatik.

Seorang pejabat Israel mengatakan Dermer akan membahas kelanjutan perang Gaza dan juga dinamika pasca-konflik Israel-Iran yang berlangsung bulan lalu. Sementara itu, Netanyahu dijadwalkan menyusul ke Washington dan bertemu Donald Trump pada 7 Juli mendatang.

Topik besar yang akan dibahas? Iran, Gaza, Suriah, dan berbagai tantangan kawasan. Namun, dari Gaza, tekanan justru datang dari Hamas. Tokoh senior Hamas, Sami Abu Zuhri, menegaskan bahwa tekanan Amerika terhadap Israel menjadi kunci keberhasilan gencatan senjata.

“Kami mendesak AS untuk menebus dosanya terhadap Gaza dengan menyatakan berakhirnya perang,” ujarnya.

Sebelumnya, gencatan senjata sempat berlangsung selama enam minggu. Namun, negosiasi lanjutan buntu. Qatar dan Mesir yang bertindak sebagai mediator disebut terus intens menjalin kontak, tapi belum ada jadwal putaran baru pembicaraan.

Hamas menyatakan bersedia membebaskan semua sandera hanya jika perang benar-benar diakhiri. Di sisi lain, Israel menolak menyerah—menuntut pembebasan sandera tanpa syarat, perlucutan senjata Hamas, dan pengambilalihan penuh Gaza.

Perang sendiri dimulai pada 7 Oktober 2023 ketika Hamas menyerbu Israel dan menewaskan 1.200 orang. Sebanyak 251 sandera diculik dan dibawa ke Gaza.

Balasan Israel kemudian berubah menjadi operasi militer besar-besaran yang sejauh ini telah merenggut lebih dari 56.000 nyawa warga Palestina. Sebagian besar korban adalah warga sipil. Krisis kemanusiaan memburuk dengan hampir seluruh 2,3 juta penduduk Gaza terusir dari rumahnya.***

Pos terkait