Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, menyatakan wataniah atau nasionalisme kebangsaan harus menjadi pondasi penting pendidikan di Indonesia. Mu’ti mengamati bagian penting ikrar para santri seperti ikrarnya taruna akademi militer, di mana nasionalismenya tidak perlu diragukan lagi.
__________
Selain soal nasionalisme, Mu’ti menyebutkan empat pondasi penting lainnya.
Pertama adalah turos, atau dasar-dasar yang menjadi bagian dari warisan sejarah Islam yang sangat luhur terutama dalam bidang ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu alat ilmu alat.
Ilmu-ilmu agama dalam bidang-bidang ilmu-ilmu ushuliah menjadi fondasi penting dalam menjelajahi khazanah keilmuan Islam yang tidak pernah dan tidak akan pernah terbatas
“Turos ini menjadi bagian dari warisan sejarah Islam yang membentuk karakter keislaman kita. ’It is part of our identity it is part of the construction of our Islam’. Karena itu, maka penguasaan ilmu-ilmu alat turos al islamiyah menjadi landasan dari pendidikan Islam,” kata Mu’ti, saat memberi amanat pada Wisuda dan Kelulusan Santri Angkatan ke-10 Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah asuhan Said Aqil Siraj, di Jagakarsa, Jakarta Selatan pada Sabtu, 17 Mei 2025 pekan lalu.
Kedua, kata Mu’ti, adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut dia, penekanannya bagaimana teknologi itu tidak terpisahkan dan tidak tercabut dari akar-akarnya terutama dari Al-Qur’an.
Ia mengisahkan, ketika pesawat ditemukan, Wright bersaudara tidak pernah membaca Al-Qur’an. Tapi mereka membayangkan burung-burung yang terbang, bagaimana burung itu bisa terbang, dan dengan imajinasi ilmiahnya, dia mengatakan suatu saat manusia juga bisa terbang seperti burung-burung itu.
“Ini adalah bagian penting yang umat Islam harus menguasainya tidak boleh ada pemisahan, menurut saya, antara ilmu-ilmu agama dengan sains modern. Bahkan seiring,” jelas Mu’ti.
Mu’ti mencontohkan mereka yang disebut sebagai ilmuwan holistik—dalam bahasa lain ilmuwan yang ‘kafah’ seperti Ibnu Rusyd—selain menguasai ilmu fikih, ilmu filsafat, mereka juga menguasai ilmu-ilmu fisika dan ilmu-ilmu kimia. Hal itu menunjukkan bahwa sebenarnya dalam diri para ulama itu melekat keilmuan yang kafah, keilmuan komprehensif.
Ketiga adalah akhlak. Kalau ilmu pengetahuan tidak dilandasi oleh akhlak, kata Mu’ti, maka dia akan menjadi senjata yang bisa menimbulkan kerusakan di mana-mana.
Menurut Mu’ti, sekarang banyak bicara mengenai artificial intelligence atau AI yang kalau orang menyalahgunakan, akan menimbulkan kekacauan luar biasa. Karena itu, penguasaan teknologi digital itu sangat penting, tapi kesalehan digital itu juga tidak kalah pentingnya.
Banyak pekerjaan baru di dunia digital, seperti konten kreator atau YouTuber. Banyak yang telah membuat konten-konten edukatif, konten yang mencerdaskan, tapi tidak sedikit juga konten kreator yang hanya sekadar mencari sensasi dan mencari sesuap nasi. Yang penting viral, soal baik atau tidak urusan belakang. Yang penting viewers jutaan, maka mendapat jutaan rupiah dari berbagai macam platform.
“Karena itu, menguasai teknologi itu penting, tetapi harus dilandasi dengan akhlakul karimah. Dan ini yang juga harus kita tanamkan dalam semua jenjang pendidikan,” bebernya.
Keempat adalah entrepreneurship, kemampuan untuk memiliki semangat kewirausahaan semangat kemandirian bekerja, menciptakan lapangan pekerjaan.
Menurut Mu’ti, tradisi pesantren yang ia pelajari dari berbagai kajian adalah tradisi entrepreneurship. “Pendidikan menurut saya perlu menekankan sekali lagi kekuatan entrepreneurship,” tandasnya.
Dalam kesempatan itu, Mu’ti mengaku sangat berbahagia berada di pesantren Al Tsaqafah bersama Said Agil Siroj—tokoh penting yang sangat dihormatinya.***





