Lontarkan Kritik Keras Penggunaan AI dalam Genosida Gaza, Insinyur Perangkat Lunak Dipecat Microsoft

Ibtihal Aboussad, Insinyur perangkat lunak asal Maroko dan Vaniya Agrawal dari India dipecat Microsoft usai protes penggunaan AI dalam genosida Gaza. | Times of India
Microsoft memecat insinyur perangkat lunak Ibtihal Aboussad gara-gara mengkritik secara terbuka penggunaan AI militer Israel dalam genosida Gaza. Dilansir CNBC yang mengutip dokumen internal perusahaan, Microsoft resmi memecat Ibtihal pada Senin, 7 April 2025.

__________

Ibtihal diketahui bekerja di divisi AI Microsoft di Kanada. Ia menyampaikan kritik keras di tengah-tengah acara perusahaan pada Jumat, 4 April 2025. Menurutnya, Microsoft telah ikut melakukan kejahatan perang melalui teknologinya.

“Anda mengklaim bahwa Anda peduli untuk menggunakan AI demi kebaikan, tetapi Microsoft menjual senjata AI kepada militer Israel. Lima puluh ribu orang telah tewas, dan Microsoft mendukung genosida ini di wilayah kami,” kata Ibtihal kepada CEO Microsoft AI Mustafa Suleyman, sebagaimana dikutip CNBC.

Bacaan Lainnya

Setelah melontarkan protes itu, pihak keamanan menggiringnya keluar ruangan. Tapi dia terus melanjutkan protesnya, sambil menyebut Suleyman dan Microsoft sebagai “pemburu rente perang”.

Setelah kejadian itu, Ibtihal mengirimkan surat elektronik kepada para eksekutif Microsoft, termasuk CEO Satya Nadella.

“Saya tidak mendaftar untuk menulis kode yang melanggar hak asasi manusia,” tulisnya. Dia menyertakan tautan ke petisi berjudul No Azure for Apartheid.

Pihak Microsoft menyatakan protes Ibtihal sebagai “kesalahan yang disengaja”. Perusahaan menyampaikan bahwa pemutusan hubungan kerja adalah “satu-satunya tanggapan yang tepat.”

Selain Ibtihal, Insinyur bernama Vaniya Agrawal juga melayangkan protes pada acara ulang tahun perusahaan ke-50, pada Jumat. Ia berencana mengundurkan diri, tetapi Microsoft langsung memberhentikannya.

Dalam pesan internal, perusahaan mengklaim bahwa protesnya menyebabkan gangguan.

Vaniya menyatakan bahwa Microsoft telah menjadi “produsen senjata digital yang mendukung pengawasan, apartheid, dan genosida.” “Dengan bekerja untuk perusahaan ini, kita semua terlibat,” kata Vaniya

Protes tersebut makin menguatkan dugaan keterlibatan Microsoft dalam kejahatan perang di Palestina.

Pada Januari lalu, media Inggris the Guardian mendapati sebuah dokumen yang mengungkap dugaan keterlibatan Microsoft dalam perang dan genosida warga Palestina di Gaza.

Dokumen tersebut mengungkap bahwa militer Israel sangat tergantung ke teknologi Cloud dan sistem kecerdasan buatan selama pengeboman intensif di Gaza.

Hubungan erat perusahaan teknologi multinasional Amerika Serikat (AS) yang berkantor pusat di Redmond, Washington itu dengan militer Israel terungkap dalam investigasi The Guardian yang berkolaborasi dengan Israel-Palestina +972 Magazine dan media berbahasa Ibrani, Local Call.***

Pos terkait