Pemerintah Swedia mengeluarkan kebijakan mengganti media pembelajaran di sekolah dari perangkat digital kembali menggunakan buku-buku cetak. Pasalnya, pembelajaran dengan perangkat digital disebut membuat siswa kesulitan berkonsentrasi.
Alat digital untuk pembelajaran di sekolah juga disebut membuat siswa sulit mengingat informasi, menurunkan keterampilan dasar, dan seringkali disalahgunakan siswa untuk main gim dan jelajah internet selama berjam-jam.
Data dari Studi Kemajuan dalam Literasi Membaca Internasional Swedia (PIRLS) menunjukkan bahwa keterampilan siswa di Swedia terus menurun pada 2016-2021.
Pada 2021, siswa kelas 4 di Swedia memperoleh rata-rata 544 poin, turun dari rata-rata 555 di tahun 2016. Di tahun yang sama, Singapura menduduki peringkat teratas dengan skor PIRLS 587 dari yang sebelumnya 576. Penurunan tersebut tidak sepenuhnya karena pembelajaran berbasis teknologi, tetapi juga disebabkan karena pandemi Covid-19.
Sementara itu, berdasarkan hasil penelitian Dewan Riset Swedia untuk Kesehatan, Kehidupan Kerja, dan Kesejahteraan (Forte), pembelajaran menggunakan teknologi digital dengan menatap layar berjam-jam dapat menghambat kemampuan siswa untuk lebih fokus dalam memproses informasi yang kompleks.
“Dampak layar dengan lampu latar pada konsentrasi dan pemahaman jauh lebih signifikan daripada yang kami perkirakan,” kata pakar pendidikan di Institut Pendidikan Nasional Swedia, Anna Lindstrom, dikutip dari The Universal, Jumat, 17 Januari 2025.
Anna juga menjelaskan, siswa sering kali menggunakan perangkat teknologi mereka untuk bermain gim atau menjelajahi internet selama berjam-jam di sekolah. Kebiasaan itu, mengurangi keterlibatan siswa di kelas.
Banyak orangtua yang menyuarakan kekhawatiran mereka terkait konsekuensi yang tidak diinginkan akibat transisi ke teknologi digital ini.
Menyikapi penurunan keterampilan siswa, Pemerintah Swedia pun memutuskan mengubah arah sistem pendidikan dengan kembali memperkenalkan buku-buku cetak di ruang kelas.
Sebagai informasi, Pemerintah Swedia sebenarnya sudah mulai mengganti seluruh buku cetak dengan perangkat digital sebagai media pembelajaran pada 2009. Namun, proses transisi pendidikan ini tidak memberikan hasil yang diharapkan.





