Wacana Pemerintah Swedia kembali menggunakan buku cetak sudah mencuat sejak 2022. Pada saat itu, Menteri Sekolah Swedia, Lotta Edholm, mengatakan, siswa Swedia membutuhkan lebih banyak buku pelajaran.
“Buku fisik penting untuk pembelajaran siswa,” ujarnya, dikutip dari The Guardian.
Edholm kemudian mengumumkan bahwa pemerintah ingin membatalkan keputusan badan nasional untuk pendidikan yang mewajibkan penggunaan perangkat digital di prasekolah pada Agustus 2023. Pemerintah Swedia bahkan berencana melangkah lebih jauh dengan mengakhiri pembelajaran digital untuk anak-anak di bawah usia 6 tahun.
Senada dengan Edholm, Institut Karolinska Swedia juga menunjukkan bukti ilmiah bahwa perangkat digital justru merusak pembelajaran. Mereka setuju bahwa pengembalian buku cetak sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan keterampilan dasar siswa.
“Kami percaya bahwa fokusnya harus kembali pada perolehan pengetahuan melalui buku teks cetak dan keahlian guru, daripada memperoleh pengetahuan terutama dari sumber digital yang tersedia secara bebas yang belum diverifikasi keakuratannya.”
Sejak 2022 hingga 2025, pemerintah menginvestasikan 104 juta Euro atau Rp1,7 triliun untuk menyediakan buku cetak bagi setiap siswa untuk setiap mata pembelajaran. Anggaran tersebut juga akan mendukung kampanye kesadaran dan membantu sekolah selama masa transisi.
“Langkah ini adalah tentang menemukan keseimbangan,” kata Menteri Pendidikan Lena Johansson.
“Kami tidak meninggalkan perangkat digital sepenuhnya, tetapi memastikan bahwa perangkat tersebut melengkapi, bukan menggantikan aspek dasar pembelajaran,” imbuh dia. ***





