Gunawan, penggagas konten berpengikut ratusan ribu, yang dikenal dengan “Joget Sadbor“, dengan ciri khas “Beras Habis Live Solusinya” ditangkap aparat kepolisian. Dia dituduh mempromosikan akun judi daring atau judi online.
Sebagaimana diketahui warga dunia maya, fenomena Joget Sadbor sedang menghebohkan jagat TikTok. Gunawan (38) adalah sosok di baliknya. Dia merupakan kreator konten asal Desa Bojongkembar, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Aksi unik Gunawan menginspirasi banyak pihak untuk membuat video serupa.
Joget Sadbor langsung booming setelah laki-laki yang dulunya berprofesi sebagai penjahit keliling di Jakarta ini menyiarkan kreasinya itu secara langsung atau live melalui akun TikTok @sadbor89. Setelah itu, sebanyak kurang lebih 300 warga bergabung dengan Gunawan.
Konten Joget Sadbor terkenal karena kesederhanaan dan unsur komedinya. Bergaya santai dengan humor khas pedesaan, mereka mengajak penontonnya melihat sisi unik kehidupan desa, seperti interaksi sehari-hari. Tidak heran apabila akunnya semakin banyak pengikut yang selalu menantikan kontennya.
Berdasarkan informasi detikJabar, Gunawan Sadbor diamankan polisi pada Kamis (31/10/2024). Hingga saat ini, Gunawa’ dan sejumlah timnya masih menjalani pemeriksaan polisi.
“Informasinya Sadbor, sudah diamankan polisi. Ada beberapa kru juga yang diamankan,” kata salah seorang warga Kampung Babakan Baru, Desa Bojongkembar, Cikembar, Kabupaten Sukabumi yang meminta namanya tak diungkap, Jumat (1/11/2024).
Sumber tersebut juga mengungkap, pria yang kerap menghibur banyak orang dengan jogetannya itu diduga terlibat promosi judi online. “Awalnya, selaku warga, kami hanya mengira itu sekadar konten biasa, tapi ternyata ada yang melanggar hukum,” ujarnya.
Kapolres Sukabumi AKBP Samian membenarkan informasi tersebut. Menurutnya konten kreator tersebut masih menjalani pemeriksaan di Satreskrim.”Benar, yang bersangkutan masih menjalani pemeriksaan,” ujar Samian.
Inspirasi Bagi Sesama yang Sedang Kesulitan Ekonomi
Ratusan warga Kampung Babakan Baru RT 05/09, Desa Bojongkembar, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi mendadak jadi kreator konten di TikTok. Mereka mengikuti jejak Gunawan alias Sadbor yang memperkenalkan tarian unik melalui live TikTok. Cuan yang didapat pun bukan kaleng-kaleng.
Kokon, Ketua RT setempat mengatakan, setidaknya ada 300 orang warganya yang melakukan live ‘Joget Sadbor’ setiap hari. Dari 300 orang tersebut dibagi menjadi 50 akun TikTok dengan jumlah peserta dalam satu kali live sekitar 6-10 orang.
Dia mengaku, mengikuti jejak Sadbor untuk mencari penghasilan tambahan. Pasalnya, pekerjaannya sebagai kuli bangunan belum mencukupi kebutuhan keluarganya sehari-hari.
“Alasan saya ya di samping mencari buat cari beli beras saya pikir juga buat menghibur orang. Sebelumnya saya kerja bangunan. Alhamdulillah penghasilan di atas kerja bangunan lah,” kata Kokon, dikutip dari Detik Jabat, Selasa (29/10/2024).
“Macam-macam, kuli serabutan, ada yang bikin opak, seperti saya kerja bangunan. Hampir semua warga kampung saya bahkan ada yang di luar kampung juga datang ke sini,” sambungnya.
Kokon menceritakan, ketertarikannya itu bermula saat ia sedang bekerja untuk merenovasi rumah Gunawan alias Sadbor, penggagas ‘Joget Sadbor’ di TikTok. Dia diajak Gunawan untuk mencoba live di akun TikTok pribadinya.”Itu saya awalnya lagi kerja bangun rumah, cuma waktu itu saya diajakin Sadbor, ‘Pak RT coba mau ikut joget-joget nggak?’ Dua tiga kali saya coba akhirnya betah dan sampai sekarang sudah hampir 1,5 tahun,” katanya.
Hingga saat ini, live di TikTok itu jadi pekerjaan utamanya. Pasalnya, dalam setahun terakhir, ia tidak bekerja dan setiap hari melakukan live di media sosial.
Soal penghasilan, Kokon menyebut, dari satu akun bisa mendapatkan Rp1 juta sampai Rp1,5 juta. Uang itu didapat dari hasil saweran (gift) para netizen atau penonton. Kokon mengaku, dari penghasilan tersebut bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga bahkan membeli kendaraan motor.
“Dari satu akun penghasilan rata-rata Rp1 juta sampai Rp1,5 juta. Bisa buat di rumah, kebutuhan rumah dan motor juga bisa kebeli,” ungkapnya.
Meski demikian, ada suka dan duka yang dialami warga kampung tersebut. “Ya suka-nya kita bisa menghibur orang. Duka-nya itu kalau ada komen-komen nggak benar. Saya bebas lah orangnya, nggak begitu ditanggapi, yang penting saya halal dan tidak merugikan orang,” sambungnya.
Dia menilai apa yang dilakukan Gunawan alias Sadbor membawa manfaat bagi masyarakat sekitar. Bahkan, Sadbor juga memperbaiki trotoar jalan dari hasil live TikTok.
“Sadbor itu orangnya baik, jadi motivasi dia ingin membantu masyarakat, membantu lingkungan. Makanya, setiap yang datang bikin akun sama dia enggak dipungut biaya, karena motivasi Sadbor itu ingin membantu orang-orang pengangguran. Bisa bangun jalan, memperbaiki pinggir jalan menghabiskan uang Rp14 juta,” kata Kokon.
Selain itu, Kokon menambahkan, Si Sadbor juga menginspirasi sejumlah ibu rumah tangga (IRT) di sana. Aksi para IRT bukan sekadar hobi, melainkan bagian dari upaya mencari penghasilan tambahan demi mencukupi kebutuhan sehari-hari, terutama untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras.
“Awalnya memang untuk cari tambahan, nggak ada buat beli beras, jadi kami coba-coba ikut joget di Sadbor.
“Alhamdulillah, walau awalnya penghasilan dari akun nol hanya Rp5 ribu atau Rp10 ribu sehari, sekarang sudah ada peningkatan. Tertinggi bisa mencapai Rp500 ribu per orang dalam sehari,” kata Inem (30) salah satu IRT di Sukabumi.
Di lokasi joget tersebut, ada sekitar delapan orang yang terbagi dalam dua grup, laki-laki dan perempuan. Para ibu biasanya tampil dari pukul 09.00 hingga 15.00 WIB, dengan istirahat di waktu zuhur. Sedangkan para pria mulai dari sore hingga malam hari.
Bagi Inem, ini adalah pekerjaan sampingan selain perannya sebagai ibu rumah tangga. Suaminya, yang dulunya bekerja sebagai sopir truk, juga ikut terlibat dan mendukung kegiatan ini.
Stigma Mengemis Online dan Potensi Disusupi Promosi Judi Online
Sosiolog dari Fisip Universitas Padjadjaran (Unpad), Ari Ginanjar menyorot fenomena cari cuan dengan melakukan aksi joget di platform media TikTok semakin viral dilakukan oleh masyarakat. Menurut Ari, saat ini platform Tiktok memungkinkan semua user nya bisa mendapatkan penghasilan dari TikTok.
“TikTok juga jadi media sosial paling banyak digemari dari berbagai kalangan termasuk kalangan menengah ke bawah. Mereka bisa memanfaatkan, mengakses media digital, termasuk dalam penggunaan Tiktok. Kemampuan dan keterampilan digital mereka bisa dimanfaatkan untuk cari pendapatan, salah satunya dengan meraih atensi kemudian menjadikan suatu konten menjadi viral,” kata Ari, dikutip dari Tribun Jabar, Senin (28/10/2024).
Ia juga menjelaskan, di TikTok terdapat mekanisme yang memungkinkan penonton memberikan sumbangan dalam bentuk gift dan bisa dicairkan untuk monetisasi. Menariknya adalah, makin banyak penggemar maka akan semakin viral dan semakin banyak rupiah yang dikonversi.
Seperti Joget Sadbor, yang kini menjadi ladang penghasilan oleh sang pemilik akun TikTok dan YouTube @sadbor86—yang mengatakan awalnya joget viral itu hanyalah coba-coba.
“Di era masyarakat digital memiliki ciri, senang mencari hiburan yang instan. Jenis pekerjaan dengan joget viral seperti itu tidak bisa dihindarkan,” tuturnya.
Namun pengaruh masyarakat untuk mengikuti jejak membuat konten joget viral ini, kata Ari, tidak akan berlangsung lama.
“Tergantung dari sampai kapan konten joget-joget itu menjadi viral, karena yang viral itu biasanya cepat berhenti trennya. Ketika tren sudah menurun, masyarakat sudah tidak akan tertarik karena hiburan instan itu membuat masyarakat cepat bosan dan mereka selalu mencari tren baru,” ujar Ari.
Ia pun memandang, selama konten joget masih viral maka para konten kreator seperti Sadbor bisa mendapatkan penghasilan dan akan masyarakat akan tertarik untuk melakukan joget-joget serupa.
Namun ketika tren tersebut sudah mulai ditinggalkan maka akan berganti lagi trennya dan mencari konten yang viral kembali.
Ari pun melihat saat ini konten kreator di media sosial semakin banyak, namun fenomena masyarakat untuk memilih jadi konten kreator joget viral tidak akan merubah secara dominan.
“Menjadi konten kreator tidak semudah itu karena harus ada yang mereka kuasai, selain kemampuan digital, akses informasi, berpikir kreatif, mengikuti perkembangan, pintar membaca tren,” ucapnya.
Di era digital ini, kata Ari, anak muda masa kini memang banyak yang bercita-cita menjadi konten kreator seperti Tiktoker dan Youtuber. Menjadi konten kreator tidak bisa dipisahkan sebagai gejala masyarakat kontemporer dan hal ini berdampak dalam mempengaruhi produktivitas mereka.
“Kalau masyarakat konsumsi media sosial secara berlebihan, misalnya harusnya belajar dan bekerja tentu ini akan ganggu. Tapi kalau dari penjahit yang joget viral ini justru jadi alternatif untuk dapat pendapatan ketika pekerjaan utama kurang menghasilkan,” ucapnya.
Ari menyebutkan, ini merupakan salah satu ciri budaya populer di mana sesuatu yang viral akan cepat dilupakan. Hal ini pun dilakukan akun joget Sadbor dimana penjahit tersebut sudah bersiap-siap ketika kontennya tidak viral lagi akan kembali ke pekerjaannya semula.
Di sisi lain, banyak yang menganggap aksi ini tidak lebih dari bentuk baru mengemis online. Beberapa warganet menilai bahwa, meski terlihat menghibur, konsep saweran di balik aksi ini mirip dengan pengemis yang meminta-minta sumbangan. Hal ini juga mengingatkan pada fenomena live mandi lumpur yang viral di Tiktok pada 2023, di mana para konten kreator rela mengguyur diri mereka dengan lumpur demi mendapatkan gift dari penonton.
“Joget Sadbor ini memang viral di Tiktok, tapi apa bedanya dengan orang yang mengemis secara online?” kata seorang warganet melalui akun IG @bigalphaid.
Banyak yang merasa bahwa tren ini menunjukkan sisi lain dari media sosial, di mana konten viral kerap kali mengaburkan batas antara kreativitas dan eksploitasi diri
Fenomena viral Joget Sadbor ternyata juga diwarnai dengan dugaan adanya promosi judi online. Beberapa akun yang menyumbang di live joget ini diduga sengaja memberikan saweran besar untuk mempromosikan situs judi online secara halus. Menurut pengamatan, beberapa top contributor dalam live tersebut mencantumkan tautan promosi judi online di profil mereka.
Sementara itu, terkait perjudian daring ini. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mencatat bahwa transaksi judi online di Indonesia pada kuartal pertama 2024 mencapai Rp600 triliun.
Jumlah yang fantastis ini mencerminkan betapa maraknya aktivitas judi online di Indonesia. Parahnya, judi online bisa merugikan negara hingga Rp141 triliun per tahun, akibat hilangnya potensi pajak dari ekonomi bawah tanah atau underground economy.***





