JAKARTA — Presiden Joko Widodo mengutuk keras serangan Israel ke Lebanon yang telah menyebabkan ratusan korban jiwa. Jokowi menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara-negara dunia agar segera mengambil langkah cepat guna menghentikan jatuhnya korban lebih lanjut.
“Indonesia mengutuk keras serangan Israel ke Lebanon, dan kita mengajak semua negara dan juga PBB untuk memberikan respons yang cepat agar tidak semakin banyak korban lagi yang terjadi atas serangan-serangan Israel,” ujar Presiden Jokowi pada Rabu (25/9/2024) di Kalimantan Timur, usai peletakan batu pertama pembangunan kawasan mixed-use Delonix Nusantara di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Konflik Israel-Hizbullah Meningkat
Perang antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon telah berlangsung selama sepekan terakhir, dengan serangan terbuka dari kedua belah pihak. Militer Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Lebanon Selatan dan Lembah Beqaa pada Rabu (25/9/2024), setelah Hizbullah menembakkan rudal balistik yang mencapai Tel Aviv. Israel menyatakan bahwa serangan ini bertujuan menargetkan fasilitas penyimpanan senjata milik Hizbullah.
“Pasukan Pertahanan Israel (IDF) saat ini melancarkan serangan ekstensif di Lebanon selatan dan kawasan Beqaa,” ungkap pihak militer Israel, seperti dilansir Arab News, Rabu (25/9/2024).
Sementara itu, Hizbullah mengklaim telah meluncurkan 150 roket ke wilayah Israel dalam sepekan terakhir. Aksi saling serang ini dipicu oleh insiden bom dan serangan terhadap alat komunikasi oleh Israel.
Korban Tewas Terus Bertambah
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa serangan udara Israel sejak Senin (23/9/2024) telah menewaskan 569 orang, termasuk 50 anak-anak, dan melukai 1.835 orang lainnya. Serangan ini juga menyebabkan sekitar setengah juta orang mengungsi. Salah satu wilayah yang terkena dampak adalah kota Maaysrah di Keserwan, wilayah mayoritas Syiah yang didominasi penduduk Kristen, di mana tiga orang tewas dan sembilan lainnya terluka.
Eskalasi konflik ini menimbulkan kekhawatiran internasional akan meluasnya perang yang dapat mengguncang stabilitas Timur Tengah. Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar pertemuan darurat pada Rabu (25/9/2024) untuk membahas situasi di Lebanon.
Seruan Internasional untuk Menghentikan Konflik
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan keprihatinannya terhadap situasi di Lebanon. “Lebanon berada di ambang krisis besar. Dunia tidak boleh membiarkan Lebanon menjadi Gaza berikutnya,” ungkap Guterres. PBB dan berbagai negara dunia mendesak agar ketegangan segera mereda demi mencegah bencana kemanusiaan yang lebih besar.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Lebanon Abdallah Bou Habib berharap dapat segera bertemu dengan pejabat Amerika Serikat untuk mencari solusi damai. Pemerintah Lebanon berharap dukungan internasional dapat menghentikan serangan dan menghindari eskalasi lebih lanjut.
Arab Saudi juga turut menyuarakan keprihatinan terhadap situasi di Lebanon, menyerukan agar stabilitas negara tersebut dijaga. “Kerajaan (Arab Saudi) menyerukan kepada masyarakat internasional dan pihak-pihak yang berpengaruh untuk menggunakan peran dan tanggung jawab mereka guna mengakhiri konflik di kawasan tersebut,” demikian bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Arab Saudi di platform X, Senin (23/9/2024).
Israel menyatakan bahwa serangannya telah memberikan pukulan signifikan terhadap Hizbullah, dengan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant menegaskan bahwa kelompok tersebut telah mengalami kerugian berat.





