Bukunya Jadi Rujukan Utama Sejarah Sukarno, Kenapa Cindy Adams Tidak Menceritakan Kedatangannya di Ploso?

Cindy Adams ketika berkunjung ke rumah kelahiran Sukarno di Gang Buntu, Desa Ngelo (sekarang Desa Rejoagung), Ploso, Jombang, 16 Januari 1964. (Dari Buku "Soekarno My Friend", Cindy Adams)
Cerita hidup Sukarno tertuang dalam beragam judul buku. Namun, kenapa buku paling terkenal, dan seakan menjadi rujukan utama, adalah buku Cindy Adams, Sukarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams (Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia)? Dan kenapa Cindy tidak menceritakan kedatangannya di Ploso, Jombang?

__________

Cindy Adams adalah orang pertama, dan bisa dibilang satu-satunya wartawati, yang berhasil mewawancarai Bung Karno dengan sangat detail. Bukan hanya tentang masalah tata negara, hal-hal pribadi Bung Karno pun berhasil dia korek.

Bung Karno adalah sosok yang membuat banyak jurnalis ‘tergiur’ untuk mewawancarai dan menuliskan riwayat hidupnya. Namun, hanya Cindy Adams yang sepertinya mampu ‘memikat’ hati Bung Karno, dan diizinkan untuk wawancara serta menulis riwayat hidupnya.

Bacaan Lainnya

Keputusan Bung Karno menerima Cindy Adams—yang merupakan warga Amerika Serikat (AS)—untuk menuliskan otobiografinya sempat membingungkan banyak kalangan saat itu. Pasalnya, pers AS dikenal sangat kontra terhadap Bung Karno, sementara Bung Karno sendiri kertika itu sedang gencar-gencarnya melawan imperialisme.

Penerimaan Bung Karno terhadap Cindy Adams dipandang sebagai keputusan yang membingungkan banyak orang pada zaman tersebut. Apalagi jika mengingat pers Amerika pada masa tersebut dikenal ‘ganas’ terhadap Sukarno. Di sisi lain, Sukarno sendiri tengah galak-galaknya mengumandangkan anti-imperialisme.

Tetapi, faktanya, justru kepada bekas pemandu sorak di Andrew Jackson High School, St Albans, Long Island, ini Sukarno seolah-olah tak menyembunyikan segala sesuatu, termasuk hal-hal personalnya.

Buku besutan Cindy Adams itu dicetak dalam berbagai bahasa, menjadi best seller karena dianggap mampu menceritakan sosok Bung Karno dengan sangat detail yang tidak diketahui banyak orang sebelumnya. Semuanya seolah diceritakan dengan sangat jujur oleh Bung Karno kepada Cindy.

Cindy pertama kali bertemu Sukarno pada 1961 di Istana Merdeka. Saat itu ia bekerja di NANA—North American Newspaper Alliance. Ia ikut rombongan kesenian AS yang dipimpin suaminya, Joey Adams, seorang komedian yang ditunjuk John F. Kennedy untuk mengepalai kunjungan seni keliling Asia.

Sukarno dan Cindy Adams di Istana Negara. (Istimewa)

Saat kembali ke negerinya, Cindy dihubungi oleh Kementerian Luar Negeri AS. Mereka mengabarkan bahwa Presiden Indonesia mengundang Cindy datang untuk menuliskan kisah hidupnya.

Sejak itu, hidup Cindy terbagi antara Jakarta dan New York.Proses penulisan berlangsung antara 1961 dan 1964. Dia menginap di Hotel Indonesia sebagai tamu negara. Tiap pagi ia ke Istana, melakukan wawancara seraya menikmati kopi tubruk.

Sebagai informasi, buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia pertama kali terbit pada 1965, sebulan setelah peristiwa 1 Oktober 1965. Diterbitkan oleh The Bobbs-Merrill Company Inc, New York.

Proses penulisan buku itu tak berjalan mulus. Cindy sempat bersitegang dengan Sukarno menjelang penerbitan. Pasalnya, Sukarno mendadak berubah pikiran setelah membaca manuskrip otobiografinya. Bung Karno tak ingin buku itu ditulis dengan model penulisan kalimat “saya”, yang berarti dia sendiri yang secara langsung mengisahkan riwayatnya kepada pembaca.

“Saya sudah putuskan, saya tak menginginkan otobiografi ini. Aku ingin sebuah biografi. Tulis ulang!” kata Sukarno waktu itu.

“Itu tidak mungkin,” ujar Cindy. Dia beralasan, sejak awal, mereka telah sepakat menulis otobiografi. Dia juga sudah menandatangani kontrak dengan berbagai penerbit dunia untuk sebuah buku otobiografi.

“Butuh waktu enam bulan siang dan malam menulis di rumah untuk manuskrip yang kuserahkan kepada Anda,” kata Cindy.

Pertengkaran terus berlanjut, sampai akhirnya Cindy mengaku bahwa dia khawatir akan kehilangan muka di hadapan para penerbit.

Sukarno pun akhirnya melunak. Bahkan, atas desakan Cindy, di hari perdebatan itu pula Sukarno menandatangani surat persetujuan penerbitan buku otobiografi tersebut.

Sementara itu, pada masa tersebut juga muncul dugaan bahwa Cindy Adams dimanfaatkan oleh Howard Jones, yang bagi banyak orang adalah duta besar yang dekat dengan Badan Intelijen Amerika (CIA). Kala hubungan antara Sukarno dan AS sedang krisis. Jones disebut membutuhkan seorang Amerika yang bisa menyenangkan Sukarno dengan membuat otobiografinya. Ia juga dibutuhkan untuk melaporkan situasi terakhir Sukarno dari dalam Istana sendiri.

Dalam buku keduanya, My Friend the Dictator, yang dalam edisi Indonesia terbit dengan judul Soekarno My Friend, Cindy secara jujur mengatakan selama di Jakarta banyak tokoh yang menyangkanya agen CIA. Sebagai penulis biografi Sukarno, dia diberi keleluasaan dan akses untuk mengorek banyak tokoh politik. Tetapi, Cindy mengakui, ada beberapa yang tak mau karena menganggapnya agen CIA—seperti Sukarni dan Achmad Subardjo.

Sukarno ketika diwawancara Cindy Adams untuk penyusunan buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”. (Istimewa)

Dalam sebuah wawancara dengan majalah Tempo pada tahun 2014, wartawan menanyakan apakah Cindy memang benar seorang agen CIA yang disusupkan Howard Jones? Dalam deskripsi laporan Tempo kala itu, Cindy digambarkan mengernyitkan dahinya. Seolah-olah, kata Tempo, dia ingat masa lalunya di Jakarta, tatkala sebagian orang mencurigainya sebagai kaki tangan CIA.

“Tapi saya bukan CIA! Alasan saya berada di Indonesia sebenarnya amat sederhana, yakni menulis buku tentang salah satu pemimpin terhebat di masanya, yang melahirkan Negara Indonesia. Tidak ada alasan lain! Saya hanya ingin menulis buku tentang seseorang yang sangat istimewa,” kata dia.

“Saya pikir, saya berada di hadapan salah satu dari empat pemimpin dunia yang paling penting dan saya sangat ingin mewawancarainya!”. Demikian wawancara terhadap Cindy Adams pada majalah Tempo edisi bulan Desember 2014.

Terlepas dari siapakah Cindy sebenarnya, dan apakah misi yang mendorongnya menulis Sukarno, yang jelas, ada fakta yang ditutupinya dalam bukunya yang jadi rujukan banyak orang itu: Sukarno lahir pada tahun 1902 di Ploso, Jombang, Jawa Timur.

Bahkan, dalam sebuah kutipan langsung dari Sukarno, Cindy menulis: “Bersamaan dengan kelahiranku, menyingsinglah fajar dari suatu hari yang baru. Menyingsing pulalah fajar dari satu abad yang baru, karena aku dilahirkan di tahun 1901,” demikian tulis Cindy Adams dalam bukunya.

Fakta yang agak kontras, karena Cindy terbukti pernah berkunjung ke rumah kelahiran Sukarno itu. Ada dokumentasi fotonya. Namun, sepertinya dia memilih tidak mempublikasikannya.

Ada apa?

Cindy Adams di ELS Mojokerto, tempat Sukarno kecil bersekolah setelah dari Ploso, sebelum ke Surabaya. (Dari Buku “Soekarno My Friend”, Cindy Adams)

Pos terkait