Menlu AS Blinken Peringatkan Potensi Serangan Iran dan Hizbullah ke Israel dalam 48 Jam

AS memperingatkaan negara G7 untuk mewaspadai serangan terhadap Israel dalam 24 jam ke depan. Foto:Ilustrasi Canva

JAKARTA — Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengeluarkan peringatan bahwa Iran dan Hizbullah mungkin akan menyerang Israel dalam 24 hingga 48 jam ke depan. Informasi ini diperoleh dari laporan publikasi AS, Axios, pada Senin (6/8/2024), saat kekhawatiran meningkat terkait potensi perang regional di Timur Tengah.

Iran dan Hizbullah berjanji akan membalas atas pembunuhan para pemimpin tertinggi Hamas dan Hizbullah pekan lalu. “Kami, para Menteri Luar Negeri G7 Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat serta Perwakilan Tinggi UE, menyatakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya tingkat ketegangan di Timur Tengah yang mengancam untuk memicu konflik yang lebih luas di wilayah tersebut,” demikian pernyataan dari Menteri Luar Negeri G7 yang dikutip dari laman Mopa.go.jp pada Selasa (6/5/2024).

Para Menlu G7 mendesak semua pihak yang terlibat untuk menahan diri dari siklus kekerasan yang destruktif, menurunkan ketegangan, dan terlibat secara konstruktif menuju deeskalasi. “Tidak ada satu negara pun yang dapat memperoleh manfaat dari eskalasi lebih lanjut di Timur Tengah,” tegas mereka.

Dilansir dari Al Jazeera yang mengutip tiga sumber anonim, Axios melaporkan bahwa Blinken memberi tahu rekan-rekannya di G7 melalui panggilan konferensi bahwa Iran dan Hizbullah dapat melancarkan serangan terhadap Israel secepatnya pada hari Senin. Sumber tersebut mengatakan Blinken menekankan bahwa AS yakin Iran dan Hizbullah akan membalas, namun Washington tidak mengetahui waktu pasti atau bentuk serangan tersebut.

Bacaan Lainnya

Blinken meminta rekan-rekannya di G7 untuk membantu menahan eskalasi dengan memberikan tekanan diplomatik pada Iran, Hizbullah, dan Israel. G7 yang juga mencakup Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Inggris, mengeluarkan pernyataan yang menyatakan kekhawatiran mendalam atas meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan menyerukan semua pihak untuk menahan diri.

Setelah pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh pada tanggal 31 Juli, AS mengirim pasukan militer tambahan ke Timur Tengah untuk mengantisipasi serangan balasan. AS menegaskan bahwa pengerahan pasukan tersebut bersifat defensif. Pimpinan Komando Pusat AS, Jenderal Michael Kurilla, dilaporkan akan tiba di Israel pada hari Senin untuk “menyelesaikan persiapan” dengan tentara Israel menjelang kemungkinan serangan.

Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant mengeluarkan peringatan, dengan mengatakan: “Jika mereka berani menyerang kita, mereka akan membayar harga yang mahal.” Perang yang berlangsung hampir 10 bulan di Gaza antara Israel dan Hamas telah menyebabkan permusuhan tingkat rendah antara Israel, Iran, dan Hizbullah, serta kelompok lain di wilayah tersebut yang bersekutu dengan Teheran.

Meskipun tidak ada pihak yang siap untuk perang habis-habisan, ketegangan yang meningkat membuat risiko konflik besar-besaran menjadi tinggi. Negara-negara yang menyarankan warganya untuk segera meninggalkan Lebanon terus bertambah pada hari Senin, menyusul peringatan dari AS dan banyak pemerintah Eropa. Jepang, Arab Saudi, dan Prancis termasuk di antara negara-negara terbaru yang mendesak warganya untuk meninggalkan negara itu sementara penerbangan komersial masih beroperasi.

“Kami sangat mendesak warga kami untuk segera meninggalkan Lebanon,” demikian pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Prancis.

Pos terkait