SURABAYA – Bulan Muharram, yang dikenal sebagai bulan Sura oleh orang Jawa dan bulan Sora bagi orang Madura, menyimpan tradisi unik yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satunya adalah tradisi ter-ater tajin sora, sebuah budaya berbagi makanan khas berupa bubur yang hanya ditemukan di bulan yang dimuliakan ini.
Ter-ater, yang berarti mengantarkan hadiah ke rumah penerima, biasanya berupa makanan. Di bulan Sura, masyarakat Madura menjalankan tradisi ter-ater tajin sora, yaitu mengantarkan bubur khas yang dikenal sebagai tajin sora. Bubur ini memiliki makna filosofis yang dalam, mencerminkan hakikat manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan selalu membutuhkan kehadiran orang lain untuk saling tolong-menolong. Tradisi ini juga mengajarkan pentingnya bersedekah dan berharap imbalan rezeki yang berlimpah.
Meskipun asal mula tradisi ter-ater tajin sora tidak diketahui dengan pasti, masyarakat Madura tetap melestarikannya hingga kini. Sepanjang bulan Muharram, orang-orang Madura saling mengunjungi rumah tetangga dan kerabat untuk mengantarkan tajin sora. Tradisi ini mempererat hubungan sosial dan menambah rasa kebersamaan di antara masyarakat.
Tajin sora biasanya disajikan dalam piring yang dialasi daun pisang, dengan berbagai lauk pendamping yang membuat rasanya berbeda di setiap rumah. Topping yang digunakan bervariasi mulai dari irisan telur dadar, daun bawang, seledri, cabai merah, kacang goreng, hingga perkedel. Beberapa versi tajin sora juga menggunakan daging ayam suwir dan abon sapi, memberikan variasi rasa yang kaya dan unik.
Tradisi ter-ater tajin sora tidak hanya menjadi simbol kebersamaan dan tolong-menolong, tetapi juga menjadi warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat Madura. Dengan saling mengantarkan tajin sora, masyarakat Madura menunjukkan betapa pentingnya nilai-nilai sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Di bulan Sura ini, rumah-rumah di Madura dipenuhi aroma khas tajin sora yang dimasak dengan penuh kasih sayang dan semangat berbagi. Tradisi ini bukan hanya sekadar menikmati bubur, tetapi juga merayakan kebersamaan dan memperkuat ikatan sosial di antara warga.*