Panitia Ruwatan Negara mengingatkan, NKRI bukan milik penguasa, melainkan titipan Tuhan yang nyaris terlupakan. Wajib disyukuri!
___________
Delapan dekade bangsa ini menikmati naungan NKRI, namun satu hal krusial tak pernah dilakukan: mengucap syukur khusus atas berdirinya negara.
Panitia Ruwatan Negara, Kushartono, menyebut kelalaian itu ibarat membiarkan rumah besar bernama Indonesia perlahan keropos dari dalam.
“Kita sibuk merayakan 17 Agustus dengan upacara, lomba, dan pesta rakyat. Tapi kita lupa, kemerdekaan hanyalah pintu masuk. Sehari setelahnya, negara ini lahir secara utuh—dan itu tak pernah kita syukuri secara khusus,” ujar Kus di Kediri, Rabu, 13 Agustus 2025.

Ia menegaskan perbedaan mendasar antara bangsa dan negara. Bangsa adalah manusia yang mendiami, negara adalah rumah yang menaungi. Banyak bangsa lain harus menunggu lama untuk punya negara berdaulat.
“Indonesia itu unik. Dalam satu momentum, kita bukan hanya merdeka, tapi langsung berdiri sebagai negara dengan Pancasila sebagai dasar. Itu karunia Tuhan yang luar biasa,” tegasnya.
Namun, selama 80 tahun, kata Kus, bangsa ini hanya merayakan kemerdekaan tanpa pernah menggelar selamatan untuk negara. Ia mengingatkan, rumah yang tak pernah disyukuri akan cepat lapuk, dan bangsa yang abai akan mudah dipecah belah.
Di sinilah Ruwatan Negara menjadi penting. Dalam budaya Nusantara, ruwatan adalah upacara pembersihan dari energi buruk akibat kelalaian. “Ruwatan negara berarti membersihkan dosa lupa, menghapus prasangka, dan mengembalikan rasa syukur kepada Tuhan,” jelasnya.
Kus menegaskan, NKRI bukan milik penguasa atau kelompok tertentu, melainkan titipan Tuhan bagi seluruh rakyat. “Titipan ini harus dijaga. Ruwatan adalah cara mengunci pintu rumah besar Indonesia agar tak dimasuki hama kebencian dan perpecahan,” ujarnya.
Ruwatan Negara bertema Indonesia Mercusuar Perdamaian Dunia akan digelar 18 Agustus 2025, sehari setelah peringatan kemerdekaan. Bagi Kus, acara ini bukan sekadar ritual, tapi gerakan moral dan spiritual untuk menghidupkan kembali kesadaran kolektif bangsa.
“Bangsa yang lupa bersyukur akan kehilangan jati diri, gampang diadu domba, dan akhirnya runtuh dari dalam. Kita tidak mau menjadi bangsa yang kufur nikmat. Ruwatan ini alarm keras untuk kita semua,” pungkasnya.***





