Hasil Cek Kesehatan Gratis menemukan karies menjadi masalah kesehatan yang paling banyak dialami anak sekolah. Kemenkes mendorong pemeriksaan gigi rutin dan pencegahan sejak dini.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengungkapkan sebanyak 41 persen anak sekolah yang diperiksa melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) mengalami karies atau gigi berlubang. Temuan tersebut mendorong pemerintah memperkuat upaya promotif dan preventif untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut sejak dini.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Prof. Dante Saksono Harbuwono mengatakan, pemeriksaan gigi menjadi salah satu prioritas dalam program CKG dan perlu dimanfaatkan oleh seluruh anak sekolah.
“Berita baiknya, pemeriksaan gigi adalah salah satu prioritas pemerintah dalam program Cek Kesehatan Gratis,” ujar Dante, dikutip dari laman Kemenkes, Selasa (22/9/2026).
Namun, ia menambahkan, hasil pemeriksaan CKG menunjukkan masalah karies menjadi temuan yang paling banyak ditemukan pada anak sekolah. Data tersebut menunjukkan perlunya intervensi yang lebih masif untuk menjaga kesehatan gigi anak.
Dante menegaskan, masalah gigi tidak seharusnya baru ditangani ketika sudah menimbulkan rasa sakit. Menurutnya, pemeriksaan rutin setiap enam bulan diperlukan untuk mendeteksi masalah sejak dini, disertai kebiasaan menjaga kesehatan gigi dan mulut setiap hari.
“Intervensi kesehatan gigi yang paling tepat adalah melalui promotif dan preventif, bukan menunggu sakit kemudian mengobatinya,” katanya.
Ia menjelaskan, sekolah menjadi salah satu kunci dalam membangun kebiasaan sehat karena terdapat Unit Kesehatan Sekolah (UKS), dokter kecil, pramuka, dan berbagai kegiatan yang dapat dimanfaatkan untuk edukasi kesehatan.
Menurutnya, pendekatan preventif dapat mengurangi kebutuhan penanganan ketika masalah kesehatan sudah berkembang. Upaya tersebut juga dapat membantu mencegah komplikasi kesehatan yang lebih serius di kemudian hari.
Dante mendorong sekolah mengajarkan hal-hal sederhana terkait perawatan gigi, mulai dari cara menyikat gigi yang benar, memilih makanan yang baik untuk kesehatan gigi, hingga mengenalkan penggunaan pasta gigi berfluoride. Materi tersebut dapat diintegrasikan dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari.
Ia juga mengusulkan konsep dengan melibatkan para murid sebagai “detektif gigi berlubang”. Anak-anak dapat dilatih untuk membantu mengenali tanda-tanda masalah gigi pada teman-temannya. Pendekatan peer-to-peer seperti ini, menurut Dante, dapat membantu karena anak cenderung lebih terbuka dengan sesama teman.
Selain pemeriksaan rutin, Dante mengingatkan pentingnya waktu menyikat gigi yang tepat, yakni setelah sarapan dan sebelum tidur malam. Kebiasaan sederhana tersebut perlu dibangun sejak anak-anak agar menjadi bagian dari perilaku hidup sehat.***





