19 Tahun Tragedi Lumpur Lapindo: Masih Ingat Bagaimana Bencana Jangka Panjang Ini Bermula?

Ilustrasi semburan lumpur Lapindo. Tragedi jangka panjang yang belum juga rampung. | Sora/Samudra Fakta
Sudah lewat 19 tahun sejak 29 Mei 2006, hari ketika lumpur panas Sidoarjo, Jawa Timur, mulai menyembur dan menggemparkan Indonesia. Semburan yang menenggelamkan desa-desa, merenggut mata pencaharian. Meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Sidoarjo. Tragedi ini menewaskan 17 orang. Masih ingat bagaimana tragedi itu bermula?

__________

Hingga hari ini, semburan lumpur Lapindo belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Aliran lumpur panas ini telah meninggalkan jejak kerusakan yang luas. Berdampak signifikan pada kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Penyebab pasti semburan lumpur masih menjadi perdebatan panjang di kalangan ahli geologi. Berbagai teori telah diajukan, dari kesalahan prosedur pengeboran hingga gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta dua hari sebelumnya kala itu.

Bacaan Lainnya
Semburan lumpur Lapindo, di Porong, Sidoarjo, adalah salah satu tragedi paling monumental di Indonesia. Belum beres sampai sekarang. | Dok. Istimewa
Sejarah Tragedi Lumpur Lapindo

Dikutip dari laman Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo Kementerian PUPR, titik semburan lumpur ini berada di Desa Siring, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, sekitar 200 meter dari sumur pengeboran gas Banjar Panji 1 milik PT Lapindo Brantas di Desa Renokenongo, Kabupaten Sidoarjo.

Bencana ini diperkirakan berlangsung dalam jangka waktu lama. Beberapa ahli geologi memperkirakan bahwa semburan ini bisa terus terjadi selama lebih dari 30 tahun.

Hal ini berbeda dengan bencana alam lainnya, yang umumnya berlangsung dalam waktu singkat—seperti banjir yang biasa terjadi dalam hitungan hari atau minggu, tsunami dalam hitungan jam, longsor atau angin topan dalam hitungan menit, dan gempa bumi dalam hitungan detik.

Semburan lumpur panas dari pertambangan milik PT Lapindo Brantas ini telah menjadi bencana nasional pada tahun 2006. Ribuan masyarakat menjadi korban karena harus meninggalkan rumah mereka yang terdampak lumpur.

Semburan pertama muncul tepat dua hari setelah gempa bumi di Yogyakarta. Dan semburan lumpur panas itu kini telah membentuk sebuah kawah.

Pos terkait