Wahid Hasyim dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Republik Indonesia melalui Surat Keputusan Presiden RI No.206/1964, tertanggal 24 Agustus 1964. Ayah dari Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid ini lahir di Jombang, pada hari Jumat legi, Rabiul Awwal 1333 H, atau 1 Juni 1914 M, ketika di rumahnya sedang ramai dengan pengajian.
Abdul Wahid Hasyim merupakan anak ke-5 dari 10 bersaudara, buah hati pasangan KH. Hasyim Asy’ari dengan Nyai Nafiqah binti Kyai Ilyas. Mengutip laman pahlawancenter.com, awalnya Wahid Hasyim diberi nama Muhammad Hasyim, mewarisi nama kakeknya. Namun, nama itu ternyata dianggap tidak serasi. Akhirnya diganti menjadi Abdul Wahid.
Abdul Wahid Hasyim mengakhiri masa lajangnya pada usia sekitar 25 tahun dengan menikahi seorang gadis berumur 15 tahun bernama Solichah, putri KH. Bisyri Syansuri, pendiri dan pemimpin Pesantren Denanyar, Jombang, sekaligus salah satu pendiri Nahdlatul Ulama. Dari pernikahan ini, Abdul Wahid Hasyim dikaruniai enam putra dan putri, yaitu Abdurrahman ad-Dakhil atau Abdurrahman Wahid; Aisyah Hamid Baidlowi; Salahuddin Wahid; Umar Wahid; Lily Khadijah; dan Hasyim Wahid
Wahid Hasyim tidak pernah mengenyam pendidikan formal di sekolah Pemerintah Hindia Belanda. Dia lebih banyak belajar secara otodidak. Dia pelajari sendiri kitab-kitab dan buku berbahasa Arab. Dia juga mendalami syair-syair berbahasa Arab sehingga hafal di luar kepala. Tak hanya hafal, Wahid Hasyim juga menguasai maknanya dengan baik.
Pada usia 13 tahun, Wahid melajutkan pendidikannya ke Pondok Siwalan, Panji, sebuah pesantren tua di Sidoarjo.Namun, dia hanya bertahan satu bulan di situ. Dari Siwalan, Wahid pindah ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Lagi-lagi, dia hanya mondok singkat di Kediri. Hanya beberapa hari.
Dengan berpindah-pindah pondok dan nyantri hanya dalam hitungan hari, menurut Saifuddin Zuhri dalam dua bukunya:Guruku Orang-orang dari Pesantren, seolah-olah Wahid Hasyim hanya memerlukan restu dari guru-gurubya, bukan ilmunya.
Soal ilmu, kata Saifuddin Zuhri, mungkin Wahid Hasyim berpikir, itu bisa dipelajari di mana saja, dengan cara apa saja. Tetapi, soal memperoleh berkah, itu soal lain. Harus berhubungan dengan kiai. Inilah, menurut Saifuddin, sepertinya yang menjadi pertimbangan utama Wahid Hasyim ketika itu.
Sepulang dari Lirboyo, Wahid Hasyim tidak meneruskan belajarnya di pesantren lain. Dia tinggal di rumah. Ayahnya membiarkan Wahid Hasyim dengan pilihannya itu. Sebab, Kiai Hasyim sang ayah paham, kendati ‘tidak mau sekolah’, Wahid adalah remaja yang giat sekali belajar.
Selama ‘nganggur’ di rumah, semangat belajar Wahid Hasyim tak pernah padam. Dia belajar banyak hal secara otodidak. Meskipun tak sekolah di lembaga pendidikan umum milik Pemerintah Hindia Belanda, Wahid bisa mengenal huruf latin dan menguasai bahasa Inggris dan Belanda pada usia 15 tahun. Kedua bahasa asing tesebut dipelajarinya dengan cara membaca majalah dari dalam maupun luar negeri.
Wahid semakin bersungguh-sungguh mempelajari berbagai pengetahuan umum—terutama pengetahuan-pengetahuan di luar pesantren—sejak dia paham huruf latin itu. Untuk mengembangkan pengetahuannya, dia berlangganan banyak majalah. Antara lain majalah Panjebar Semangat, yang materi kontennya mewakili pemikiran kelompok Dr. Soetomo;Daulat Rakyat yang mewakili PNI-Hatta; dan Panji Pustaka, terbitan Balai Pustaka.
Wahid juga berlangganan Ummul Qur’an, Saultul Hijaz, Al-Lathoiful Musyawarah, Kullushai-in wad-Dunnya, dan Al-Itsnain. Dia belajar bahasa Belanda dengan berlangganan kursus tertulis “Sumber Pengetahuan” di Bandung. Dia juga belajar bahasa Inggris. Berbekal penguasaan bahasa itu itulah Wahid Hasyim melahap berbagai koran maupun buku. Karena kedoyanannya membaca, sejak muda Wahid pun harus mengenakan kacamata.





