KH. Wahid Hasyim (1): Anak Muda Pesantren Paling Progresif pada Zamannya

Pada tahun 1932, ketika menginjak usia 18 tahun, Wahid Hasyim melanjutkan pendidikannya ke Mekkah. Dia ditemani oleh saudara sepupunya, Muhammad Ilyas—yang kelak menjadi Menteri Agama.

Wahid Hasyim belajar di Mekkah selama dua tahun. Pengetahuan dan keilmuannya kian luas selama belajar di Tanah Suci umat Islam tersebut.

Bacaan Lainnya

Begitu kembali ke Indonesia, Wahid mendirikan sebuah madrasah modern di dalam lingkungan pesantren ayahnya, yang diberi nama Madrasah Nidzomiyah. Sekitar 70 persen dari kurikulum madrasah ini berisi pelajaran-pelajaran umum, seperti bahasa Belanda dan bahasa Inggris—selain bahasa Arab.

Wahid Hasyim juga mulai mendirikan sebuah perpustakaan yang berlangganan berbagai koran dan majalah, terutama yang ditulis dengan huruf Latin. Pelajaran-pelajaran berpidato dalam bahasa Belanda dan Inggris, serta mengetik, juga mulai diperkenalkan kepada para siswa.

Apa yang dilakukan Wahid Hasyim ini sefrekuensi dengan semangat ayahnya, KH. Hasyim Asy’ari, yang terus berupaya menerapkan pembaharuan dalam sistem pembelajaran di lingkungan Pesantren Tebuireng.

Pada 1916, Ma’sum, menantu Kiai Hasyim, dengan dukungan Wahid Hasyim, memasukkan sistem madrasah ke dalam sistem pendidikan pesantren. Ada tujuh jenjang kelas dan dibagi menjadi dua tingkatan. Tahun pertama dan kedua dinamakan siffir awwal dan siffir tsani, yaitu masa persiapan untuk memasuki masa lima tahun jenjang berikutnya. Pada tahap siffir awwal dan siffir tsani diajarkan khusus bahasa Arab sebagai landasan penting pembedah khazanah ilmu pengetahuan Islam.

Pada tahun 1919, kurikulum madrasah tersebut ditambah dengan pendidikan umum, seperti bahasa Indonesia (Melayu), berhitung dan ilmu bumi. Pada 1926, Mauhammad Ilyas memasukkan pelajaran bahasa Belanda dan sejarah ke dalam kurikulum madrasah atas persetujuan Kiai Hasyim Asy’ari.

Pembaharuan pendidikan Pesantren Tebuireng yang dilakukan Wahid Hasyim atas restu ayahnya, Kiai Hasyim Asy’ari, bukan tanpa halangan. Tak semua hal baru bisa langsung diterima. Seringkali proses pembaruan mengalami fase turbolensi dan resistensi. Demikian juga yang terjadi di Tebuireng.

Banyak orang tua santri memindahkan anak-anaknya ke pesantren lain. Pasalnya, Pesantren Tebuireng dipandang sudah terlalu modern. Tidak lagi “orisinil”. Namun, reaksi orang tua santri itu tidak menyurutkan proses pembaharuan yang terus berlangsung di Tebuireng. Sebab, Bangsa Indonesia harus dididik dengan benar, dimulai dari lingkungan pesantren.

Upaya serius Wahid Hasyim menghadirkan pembaharuan di lingkungan pesantren—dengan tujuan utama membuka dan menperluas cakrawala berpikir para santri—mendapat perhatian dari pemerintah waktu itu. Dia dipandang memiliki pemikiran progresif yang bakal berguna dalam proses merebut kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Walhasil, pada tahun 1943, di usia yang masih sangat muda, 29 tahun, Wahid Hasyim menempati posisi strategis dalam politik nasional masa itu: Wakil Ketua Masyumi pusat, anggota Chu Sang In (Dewan Penasihat pemerintahan militer Jepang), penasihat Shumubu (Kantor Agama pusat), dan pimpinan Jawa Hokokai (Jawa Haqqu Kiai). Setahun kemudian, pada tahun 1944, dia menjadi Ketua Kantor Agama pusat.

Wahid Hasyim pernah menjadi penasihat Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman di masa revolusi kemerdekaan. Pada tahuin 1945, dia menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan masuk tim sembilan perumus Piagam Jakarta—yang kemudian menjadi Pancasila.

Wahid Hasyim pula yang memperjuangkan kalimat ringkas namun maknanya dalam dan luas, “Ketuhanan Yang Maha Esa,” sebagai sila pertama Pancasila, setelah menghilangkan subkalimat, “…dan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya,” yang dinilai rawan menimbulkan konflik.—bersambung

(Wijdan | Diolah dari berbagai sumber)

Pos terkait