Pendampingan 24 jam bisa disebut ruh pendidikan di Baitul Kilmah, karena proses kreatifitas sulit dibatasi oleh ruang dan waktu. Sementara imaji-imaji kreatif condong bersifat liar, muncul di tempat mana pun dan di waktu kapan pun. Ketika imaji kreatif muncul, peserta didik butuh ruang dialog untuk mengawalnya menjadi sebuah karya nyata.
Ruang dialog dan diskusi harus terus terbuka 24 jam. Karena imaji kreatif mudah hilang apabila tidak segera dikawal. Dari sini, partnership dalam berdiskusi dan berdialog menjadi sangat penting, baik antara peserta didik dan pendidik, sesama peserta didik maupun sesama pendidik.
Pendampingan pembelajaran yang dilakukan oleh Baitul Kilmah cukup variatif. Bukan hanya mengawal gagasan menjadi karya tulis, tetapi juga membangun jaringan distributif. Kiai Aguk Irawan dan Kamran Asad Irsyadi memberikan contoh bagaimana membangun hubungan personal maupun institusional dengan penerbit-penerbit buku.
Dengan begitu, para santri-mahasiswa di Baitul Kilmah terlatih untuk terjun ke dunia industri perbukuan.
Ada dua jenis yang bisa dilakukan; pihak santri yang mengajukan karya-karya mereka kepada pihak penerbit, atau sebaliknya, pihak penerbit yang menjelaskan kebutuhan naskah mereka.
Dampak pendampingan pembelajaran semacam itu sangat nyata, yaitu menjadikan alumni Baitul Kilmah sebagai tenaga profesional. Meminjam istilah yang belakangan diperkenalkan oleh Menteri Pendidikan Nadiem Anwar Makarim, apa yang dilakukan oleh Baitul Kilmah adalah praktik “link-and-match” institusi pendidikan dan industri.
Praktik “link-and-match” memang terasa nyata. Santri-santri Baitul Kilmah menjadi lebih mandiri dengan menekuni profesinya di bidang ekonomi kreatif. Kemandirian itu, antara lain, bisa ditunjukkan dengan kemampuan mereka untuk menbayar biaya pendidikan di kampus masing-masing hingga lulus sarjana.
Bukan saja sarjana strata 1, tetapi sebagian mampu sampai sarjana strata 2. Setelah lulus, beberapa alumni Baitul Kilmah mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.
Seperti yang dilakukan Ahmad Ali Adhim, pendiri sekaligus pemilik Dawuh Guru Media yang berprofesi sebagai konten kreator, desainer, dan penulis wikipedia. Ahmad Ali Adhim alumni magister pendidikan UIN Sunan Kalijaga.
Contoh lainnya adalah Fuad Bawazir, pemilik program Gerakan Literasi Pesantren. Fuad Bawazir aktif mengisi seminar-seminar kepenulisan di berbagai pondok pesantren selama dua tahun terakhir. Ia juga berhasil mengantarkan 27 orang santri menjadi penulis buku. Satu di antara mereka ada yang mampu menulis 7-8 buku. Fuad Bawazir adalah alumni magister ekonomi Universitas Islam Indonesia.
Yayasan Pondok Pesantren Kreatif Baitul Kilmah berharap alumni-alumninya terus berkontribusi dalam menggerakkan literasi, sehingga bermanfaat pada pengembangan keilmuan sekaligus bermanfaat dalam menciptakan lapangan pekerjaan, melalui ekonomi kreatif.■ bersambung





