Penulis buku Bung Karno, Bapakku, Kawanku, Guruku itu mengatakan, saat ini perlu menerapkan prinsip ambek paramaarta, yang artinya mendahulukan hal penting dan mengesampingkan lainnya. “Kalau itu sudah tercapai (menang di Pilpres), kekuasaan dan hak prerogratif ada di Ganjar Pranowo dan Mahfud MD, baru yang lain,” kata Guntur.
Guntur menyatakan, setelah Ganjar-Mahfud menang, barulah memikirkan urusan dengan Jokowi. Belakangan, muncul suara pemakzulan Presiden Jokowi. “Termasuk Jokowi tuh mau kita apain kita nantilah,” katanya.
Melalui salah satu tulisan opininya, dikutip dari gesuri.id (16/11/2023), Ketua Dewan Ideologi DPP PA GMNI itu mengajak kaum patriotik untuk berjuang memenangkan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD di Pilpres 2024. Guntur mengungkap ada hal-hal yang menjadi dasar persoalannya.
“Marilah kita kaum patriotik, terutama kaum patriotik Sukarnois, dengan geraham gemeretak laksana ‘banteng ketaton’ terus berjuang menjadikan Ganjar Pranowo sebagai Presiden dan Mahfud MD sebagai Wakil Presiden,” tulis Guntur.
Dalam opini itu, Guntur menuliskan jika beberapa waktu lalu pernah mengutarakan pendapat mengenai kondisi peta sosial politik setelah Pemilu 2024 yang akan datang. Menurut artikel itu, PDIP sebaiknya melalui suatu Kongres Luar Biasa (KLB) mengubah struktur organisasinya dengan menempatkan Jokowi yang sudah selesai tugas kepresidenannya tidak menganggur di Kota Solo sebagai warga biasa.
Jokowi ditetapkan sebagai Ketua Umum PDIP menggantikan Megawati Soekarnoputri yang sudah memasuki usia ke-77 tahun. “Sangatlah bijak bila Megawati Soekarnoputri diberi posisi strategis sebagai Ketua Dewan Pembina PDI Perjuangan dengan tetap mempunyai hak prerogatif sebagaimana semula,” tulisnya
Pendapat Guntur itu ternyata viral di dunia sosial politik kini ‘rungkad’ (berantakan) karena timbulnya masalah menyangkut putra-putra Jokowi, yakni Gibran Rakabuming Raka bahkan Kaesang Pangarep.
“Yang satu urusan menjadi calon wakil presiden (cawapres) dari calon presiden (capres) Prabowo Subianto, yang lainnya ‘ujug-ujug’ diangkat menjadi Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI),” katanya.
Kejadian di atas membuat kalangan politikus, tokoh-tokoh partai dan lain-lain menjadi bingung, tidak tahu harus berbuat apa, termasuk senior-seniornya, kecuali PDIP yang tampaknya siap menghadapi situasi apa pun. Bagi Guntur, kejadian itu membuat terkejut, karena tepatnya pada tanggal 17 Agustus 2023 yang lalu dia bertemu dengan Jokowi. Guntur menanyakan perihal kebenaran berita-berita tersebut, terutama mengenai pendirian politik Jokowi
Apakah masih konsisten mendukung Ganjar Pranowo untuk menjadi presiden, atau tidak. Menurut Guntur, Ganjar perlu didukung Jokowi untuk meneruskan pekerjaan-pekerjaan yang sudah dikerjakan dan rencana-rencana yang sudah dibuat oleh Jokowi. Seperti pembangunan Ibu Kota Negara (IKN), hilirisasi, dan pembangunan infrastruktur di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).





