Fakta-Fakta Lailatul Qadar: Terinspirasi dari Ibadah Bani Israil, Awalnya Tak Dirahasiakan

Ilustrasi malam Lailatul Qadar. FOTO: Canva
Mulanya Tidak Dirahasiakan

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari Ubadah bin ash-Shamit mengatakan: “Nabi pernah menemui kamu untuk mengabarkan datangnya malam Lailatul Qadar, tapi ternyata ada dua orang dari kaum muslimin yang saling berselisih. Lalu Rasulullah Saw kemudian berkata ‘Sungguh aku keluar untuk mengabarkan datangnya Lailatul qadar kepada kalian’.”

Mengacu pada hadits di atas, bisa disimpulkan bahwa mulanya Lailatul Qadar tidak dirahasiakan. Nabi ingin mengabarkan kepada para sahabat perihal datangnya malam istimewa tersebut melalui perintah-Nya.

Namun, ketika beliau hendak mengumumkannya, terjadi perselisihan antara dua Muslim, hingga keduanya saling mencaci. Adanya perselisihan itu pun menjadi penyebab informasi kedatangan Lailatul Qadar kembali dirahasiakan oleh Allah Swt.

Bacaan Lainnya

Belajar dari kisah tersebut, beberapa ulama menafsirkan bahwa Lailatul Qadar hanya akan hadir kepada mereka yang anti-konflik. Lailatul Qadar, menurut para ulama, hadir ke dalam diri yang dipenuhi toleransi, bukan kebencian. Dalam jati diri yang penuh cinta kasih dan kebersamaan.

Keburukan yang diakibatkan oleh perselisihan, persengketaan, dan perdebatan termasuk hal yang tidak disukai Allah. Gara-gara perselisihan itu pulalah umat Islam batal mendapatkan informasi penting tentang datangnya Lailatul Qadar.

Walhasil, jika seseorang yang ingin mendapatkan Lailatul Qadar, dia harus tekun berusaha menyosongnya di setiap malam—karena dia tidak tahu kapan datangnya. Dengan istikamah setiap malam, barangkali ia akan mendapatkan keberkahan malam istimewa tersebut.

Kendati batal dapat ‘info A1’ tentang Lailatul Qadar, umat Islam sebenarnya mendapat keberkahan dalam bentuk lain. Barangkali Allah sengaja membatalkan informasi kedatangannya agar kaum Muslimin memanfaatkan sebanyak-banyaknya waktu untuk taat dan beribadah kepada-Nya—sembari berharap bakal mendapatkan Lailatul Qadar di salah satu waktu.

Maka dari itu, selama 10 hari terakhir bulan suci Ramadhan—yang dikenal sebagai itqum minan nar—umat Muslim diminta berdoa, mendirikan shalat malam, dan berzikir memohon ampun atas segala dosa-dosa yang diperbuat. Dengan kata lain, sembari berharap mendapatkan Lailatul Qadar, umat Muslim diberi kesempatan untuk bertaubat.

Walhasil, perjalanan spiritual umat Islam di tengah proses pencarian Lailatul Qadar dengan sendirinya menjadi proses pembersihan diri dari segala kotoran batin.

Pos terkait