Dua Sisi Acara Berkabung untuk Presiden Raisi: Ketika Duka dan Perayaan Berjalan Bersama

Mendiang Presiden Iran Ebrahim Raisi. Kematiannya menyisakan kontroversi. FOTO: Ilustrasi

Maka dari itulah, kata Davishpour, ketika Presiden Raisi tewas, wajar saja banyak warga Iran yang senang dan merayakannya. Namun demikian, perayaan itu mendapat banyak kecaman, terutama dari para pendukung Presiden Raisi. Beberapa pendukung Raisi menggunakan media sosial untuk mengecam hingga mengancam mereka yang secara terbuka merayakan kematian Sang Presiden.

Seorang ulama bernama Mohammad Mohammadi Tabar menulis di platform X, di mana menurutnya Iran harus, “memberikan pukulan keras kepada mereka yang sedang tidak bersungguh-sungguh.”

Bacaan Lainnya

Sementara seorang pengguna X lain mengancam orang-orang yang merayakan itu dengan mengunggah foto anak-anak muda yang dibunuh oleh rezim Raisi. Tujuannya untuk menunjukkan bahwa tidak ada belas kasihan bagi mereka yang berani menantang Presiden Raisi.

Sebagaimana dilaporkan Kompas, kecaman juga dikeluarkan oleh para pejabat peradilan. Mereka memperingatkan bahwa siapa pun yang diketahui merayakan kematian Presiden Raisi akan dituntut kemudian.

Dikenal Kontroversial

Raisi baru berusia 18 tahun ketika Iran pertama kali diproklamirkan pasca-revolusi tahun 1979.

Namun, dia dengan cepat naik ke tampuk kekuasaan. Raisi pertama kali diangkat menjadi jaksa agung di Karaj, pinggiran Kota Teheran. Pada akhirnya, ia menjabat sebagai wakil jaksa di ibu kota.

Pada akhir tahun 1980-an, Raisi diduga memainkan peranan penting dalam eksekusi ribuan tahanan politik. Dia membantah telah terlibat, namun di saat bersamaan, dia memuji keputusan untuk melanjutkan proses eksekusi tersebut.

Pada tahun 1989, Raisi dipromosikan menjadi kepala jaksa Teheran. Dia diangkat menjadi kepala kehakiman pada tahun 2004. Raisi berada pada posisi tersebut selama satu dekade. Tindakan keras terhadap protes massal yang terjadi tahun 2009 di Iran terjadi di bawah kekuasaan Raisi.

Pada tahun 2021, Raisi memenangkan Pemilihan Presiden setelah para saingan utamanya sebelumnya dilarang untuk ikut mencalonkan diri. Jumlah partisipasi pemilih dalam Pemilu yang memenangkan Raisi tersebut tercatat mencapai rekor terendah, hanya sekitar 48 persen.

Raisi saat itu memenangkan hampir 62 persen dari total suara yang digunakan. Mayoritas suara yang dia dapat berasal dari kelompok agama konservatif.

Kepresidenan Raisi juga disebut diwarnai berbagai kontroversi. Sebuah misi pencari fakta independen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada awal tahun ini mengklaim telah menemukan bahwa pemerintahan Raisi melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan melalui “penindasan dengan kekerasan” terhadap protes dan diskriminasi terhadap perempuan.■

Pos terkait